Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut pidato Presiden
Palestina Mahmud Abbas pada Sidang Majelis Umum PBB Kamis lalu (29/11)
sebagai setan. ‘’Didasari kebencian dan penuh tipu-tipu,’’ katanya.
Kolega Netanyahu, yang juga Menteri Luar Negeri Israel, Avigdor
Lieberman menambahkan, Mahmud Abbas adalah musuh utama negara Israel.Ia menyebut Abbas tidak mempunyai kemauan damai. ‘’Orang seperti itu (Abbas--Pen) apabila berkuasa akan merugikan rakyatnya. Ia akan memanfaatkan rakyatnya untuk kepentingan pribadi dan akan menyengsarakan mereka.’’
Bak gayung bersambut, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menilai kesepakatan Majelis Umum PBB yang memberi dukungan kepada Palestina sebagai pengamat nonanggota sebagai sangat disayangkan dan kurang dipikirkan secara mendalam. Menurutnya, jalan satu-satunya untuk mendirikan Negara Palestina adalah dengan perjanjian damai antara Palestina dan Israel secara langsung. Tidak dengan pergi ke PBB.
‘’Keputusan itu telah menambah rintangan terhadap perdamaian,’’ katanya.
NEURON " Mesin Pembunuh dari Eropa " sedang di uji coba.
Tidak ada yang mengejutkan dari pernyataan pejabat Israel maupun Amerika di atas. Hal yang biasa, sebagaimana Amerika akan selalu menggunakan hak veto di Dewan Keamanan PBB setiap kali ada usulan resolusi yang mengecam kebiadaban Zionis Israel.
Hal yang lumrah juga apabila sebelumnya Israel mengancam akan membunuh Mahmud Abbas bila meminta dukungan ke PBB. Juga, tidak mengherankan bila Amerika mengancam akan menutup kantor perwakilan Palestina di Washington apabila Palestina mempersoalkan pelanggaran HAM oleh Israel ke Pengadilan Kejahatan Internasional (ICC) di Den Haag, Belanda.
Sebab, dengan statusnya di PBB sekarang ini, Palestina mempunyai akses langsung ke ICC. Dalam pergaulan dunia, di mana kekuatan bersenjata menjadi bahasanya, gertakan dan ancam-mengancam sepertinya sudah menjadi hal lazim. Tidak jelas juga siapa yang setan dan siapa yang malaikat. Tidak bisa dipahami lagi siapa yang jahat dan siapa yang baik. Bisa jadi, dia yang setan, tapi teriak orang lain sebagai setan.
Namun, keputusan Sidang Majelis Umum PBB terkait dukungan kepada Palestina sekarang ini berbeda. Negara-negara Barat yang biasanya taqlid a’ma alias membebek kepada sikap Amerika yang selalu mendukung Zionis Israel kali ini bersikap lain. Inggris, Australia, Jerman, dan Belanda, misalnya, memilih abstain bersama dengan 41 negara lainnya.
Sedangkan, Prancis, Italia, Belgia, Yunani, Portugal, Spanyol, dan Swedia bahkan bergabung dengan 138 negara yang mendukung Palestina. Sementara itu, yang menolak dukungan terhadap Palestina hanya berjumlah sembilan negara, termasuk AS dan Israel sendiri. Sisanya, negara-negara kecil atau yang secara geopolitik dunia tidak banyak pengaruhnya.
Dengan peta seperti ini, AS dan Israel sebenarnya semakin terkucilkan. Apalagi, AS sekarang ini sedang didera krisis ekonomi berkepanjangan. Mereka sebisa mungkin menghindari campur tangan militer di negara lain, seperti halnya yang pernah dilakukan di Afghanistan dan Irak. Sebaliknya, bagi Palestina, dukungan Majelis Umum PBB tersebut jelas merupakan kemenangan dan langkah maju menuju sebuah negara merdeka dan berdaulat.
Palestina mendapat dukungan luas dan kuat terhadap tuntutan mereka untuk mendirikan Negara Palestina merdeka dan berdaulat di Tepi Barat, Gaza, dan Madinatul Quds (Yerusalem Timur). Serta, dikembalikannya wilayah yang dikuasai Israel pada Perang Enam Hari 1967.
Selanjutnya, dengan pengakuan PBB tersebut telah membuka jalan bagi Palestina untuk bergabung dengan institusi-institusi dan lembaga di bawah PBB, termasuk Mahkamah Pidana Internasional (ICC) di Denhaag. Dengan begitu, Palestina akan bisa membawa semua kasus pelanggaran HAM dan kejahatan perang yang selama ini dilakukan Zionis Israel ke Mahkamah Internasional.
Inilah sebenarnya yang sangat ditakutkan oleh AS dan dan setan-setan Zionis (baca: para pejabat tinggi Israel). Tentu, dengan bergabungnya ke PBB bukan berarti persolan bangsa Palestina selesai. Jalan perjuangan masih sangat jauh, panjang, dan berliku. Secara faktual, sebagian besar wilayah Palestina masih diduduki atau dikendalikan oleh Israel.
Di atas wilayah-wilayah itu kini telah dibangun ribuan permukiman Yahudi. Versi Amerika dan Israel, konflik kedua negara tidak bisa diselesaikan dengan pergi ke PBB, tapi harus diselesaikan lewat perundingan damai secara langsung oleh pejabat atau juru runding Palestina dan Israel. Namun, bila ini yang ditempuh, sebagaimana biasa, yang berlaku adalah bahasa ancaman, gertakan, dan bahasa kekuatan senjata ala jenggo Israel dan Sheriff Amerika yang melerai pertikaian para koboi penggembala sapi. Yang berlaku adalah bahasa setan. Hal inilah yang ditolak masyarakat internasional.
Kini, dengan pengakuan PBB, kalaupun harus ditempuh lewat perundingan langsung antara Palestina dan Israel, maka badan dunia akan terlibat dan ikut mengawasi. Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius dan Menteri Luar Negeri Inggris William Hague yang menulis artikel di harian berbahasa Arab Al Sharq Al Awsat menyatakan, negara mereka mempunyai kewajiban untuk mendukung berdirinya Negara Palestina, sejalan dengan keputusan Sidang Majelis Umum PBB.
Negara Palestina merdeka yang berdampingan dengan Israel, plus jaminan keamanan dan perbatasan yang lebih jelas di bawah bendera PBB. ‘’Yang utama adalah melakukan apa yang bisa kita lakukan sehingga tahun 2013 ada kemajuan menuju perdamaian antara Israel dan Palestina,’’ tulis Fabius dan Hague.
Namun, yang namanya setan tetap setan. Tidak pernah ada takutnya. Dunia boleh berteriak, namun kafilah tetap berlalu. Karena itu, perjalanan bangsa Palestina menuju negara merdeka dan berdaulat masih sangat panjang.
Sumber : Republika Online, Senin, 03 Desember 2012