Sabtu, 05 Oktober 2013

Belajar Bahasa Arab ke Negeri Arab

Selain di Indonesia, geliat belajar bahasa Arab juga marak di negara-negara Arab. Rabu selepas isya di bulan Februari 2013 di Masjid as-Salaam, Distrik 10, Nasr City, Kairo. Sufyan Ben al-Hadj, 31 tahun, warga negara Perancis keturunan Aljazair menghampiri Suara Hidayatullah. Ia berkata, “Ghadan, ba’da ‘isya sa-na`kulu ‘asya fi baitiy (besok setelah isya kita makan malam di rumahku).”

Kata Sufyan, esok adalah hari terakhir ujian kenaikan tingkat di tempat ia belajar bahasa Arab, Ma’had Sabilul Mu’minin. Sebab itu, ia ingin mengundang beberapa teman yang biasa shalat di Masjid as-Salaam untuk makan malam di rumahnya.

Masjid as-Salaam adalah salah satu masjid terkenal di Nasr City (Madinat Nasr). Banyaknya orang non-Arab yang shalat di masjid itu karena kawasan Nasr City memang banyak didiami orang non-Arab seperti Indonesia dan Malaysia, juga orang-orang dari kawasan Balkan, Afrika, juga Amerika dan Eropa.

Sebagian mereka mahasiswa Universitas Al-Azhar, sebagian lagi pendatang musiman yang datang khusus ke Kairo untuk belajar bahasa Arab. Untuk bagian yang kedua ini ada yang tinggal lebih dari setahun, ada juga yang beberapa bulan untuk mengisi waktu liburan.

Mereka tinggal berkelompok dengan menyewa apartemen di kawasan pinggiran kota Kairo ini. Dan masjid adalah tempat yang paling pas untuk saling berinteraksi dan mempraktekkan bahasa
yang dipelajari di tempat kursus dengan warga asli setempat, atau dengan teman-teman dari berbagai negara.

Di waktu yang dijanjikan untuk makan malam, berkumpullah Musa asal Kongo, Abdurrahman asal Kanada, dan Shadiq dari Inggris di apartemen sewaan Sufyan. Sufyan masak kari ayam dengan kentang untuk dimakan dengan roti-roti berukuran panjang.

Tak ada tema pembicaraan khusus malam itu. Bicara apa saja, yang penting dengan bahasa Arab. Mulai soal adat-istiadat di negeri masing-masing, pekerjaan, keluarga, hingga masalah dakwah. Jika ada kekeliruan akan diingatkan oleh yang lebih mahir. Dalam hal ini, Abdurrahman yang paling mahir, karena ia sudah lebih dari setahun belajar di Mesir.

Sebagai ibukota dari negara yang kaya dengan objek wisata sejarah, Kairo banyak dikunjungi orang dari seluruh dunia, baik untuk wisata, bisnis, mencari kerja, dan belajar di berbagai universitas. Karena hal inilah ratusan lembaga kursus bahasa Arab tersebar di kota ini. Beberapa lembaga bahasa yang terkenal di Kairo antara lain Markaz Fajr, Markaz al-Ibanah, Markaz Nil, Markaz Iqra’, Markaz ad-Dauli (ICT), dan lainnya.

Program yang ditawarkan beragam sesuai kebutuhan. Bukan cuma bahasa Arab resmi atau fush-ha untuk baca dan tulis, tapi juga percakapan ‘amiyyah (bahasa Arab pasaran), pidato, hingga program membaca koran berbahasa Arab.


Motode yang Variatif
Selepas liputan di Jalur Gaza, Palestina selama sebulan pada Desember tahun lalu, Suara Hidayatullah mengikuti kursus bahasa Arab privat di Markaz ad-Dauli (ICT) selama dua bulan. Di sana Suara Hidayatullah dapati bukan hanya Muslim yang belajar bahasa Arab, tapi juga non-Muslim.

Di ICT, Suara Hidayatullah bertemu dengan Nikolai asal Rusia yang telah menyelesaikan program bahasa Arab fush-ha, dan sedang belajar bahasa Arab ‘amiyyah. Ia mengaku belajar bahasa Arab karena ia punya bisnis di Kairo. Hal senada juga diakui Sung, peserta kursus asal Korea Selatan.

Salah seorang staf pengajar ICT, Abdurrahman Waly mengatakan, lembaganya tidak melarang non-Muslim belajar bahasa Arab.
“Karena ada juga dari peserta non-Muslim yang masuk Islam setelah ikut kursus,” katanya.

Soal metode mengajar, Abdurrahman mengaku, lembaganya berupaya membuat peserta belajar bahasa Arab sebagaimana orang Arab belajar bahasanya sejak kecil. Yakni memulainya dengan memperbanyak kosa kata dan percakapan, kemudian mencatatnya.

“Soal kaidah-kaidah (seperti nahwu dan sharf) sedikit di awal, dan akan dibahas lebih jauh di tingkat akhir,” kata pengajar yang juga mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Adab Universitas Kairo ini. Katanya, itu dimaksud agar siswa betu-betul memahami makna suatu kata, bukan cuma menghapal terjemahnya.


 Meski bisa berbahasa Inggris, Abdurrahman sangat jarang menerjemahkan suatu kata dalam   bahasa Arab ke dalam bahasa Inggris. Biasanya, ia akan membuat gambar, mencari permisalan, bahkan berpantomin.
Abdurrahman juga sering menyelipkan budaya dan sejarah Arab, sejarah Mesir, dan sejarah Islam umumnya untuk menambah wawasan siswanya. “Agar Anda bisa berpikir seperti orang Arab berpikir terhadap sesuatu itu,” katanya menjelaskan.

Berhubung program belajar yang diikuti Suara Hidaytullah adalah privat, proses belajar mengajar tidak selalu di dalam kelas. Suatu hari belajar dilakukan dengan cara berjalan-jalan ke sebuah distrik kota tua di Kairo. Namanya Distrik Sayyidah Zainab. Dengan membawa pulpen dan buku tulis, kami berkeliling distrik tempat dikuburkannya istri Rasulullah saw tersebut. Naik-turun kendaraan, dan keluar-masuk bangunan, kemudian mencatat kata-kata baru yang ditemukan. Dengan metode yang variatif dan intens tersebut, Suara Hidayatullah mampu berbahasa Arab dalam waktu yang cukup singkat walau masih banyak kesalahan secara gramatikal. Namun mental untuk berkomunikasi sudah sangat terasah.
Selain mengajar bahasa Arab kepada pemula, lembaga-lembaga kursus seperti ICT juga membuka program pelatihan mengajar bahasa Arab bagi pengajar bahasa Arab. Selama di ICT, kelas privat yang diikuti Suara Hidayatullah dua kali dijadikan contoh praktek mengajar bahasa Arab untuk non-Arab. Yang pertama rombongan guru bahasa Arab dari Suriah, yang kedua dua orang dosen bahasa Arab dari Fakultas Ilmu Budaya Universtias Padjadjaran (Unpad), Bandung.

Titin Nurhayati Ma’mun, salah satu dosen Unpad mengatakan, ia mendapat variasi teknik baru untuk mengajar bahasa Arab. Katanya, selama ini ia mengajar dengan metode teacher centered learning yang membuat siswa pasif. Sebagai guru, dengan belajar di negeri Arab ia juga aktif berbahasa Arab. “Inilah untungnya belajar di sana,” kata Titin yang menjabat sekretaris program doktor di FIB, Unpad ini.

     Bagi orang Arab, mengajar bahasa Arab kepada non-Arab punya rasa tersendiri.
Ada nilai dakwah yang berbeda ketika kami berinteraksi dengan kaum Muslimin dari berbagai belahan dunia,” kata Adel Ahmad Salim Banaemah, Dekan Program Studi Bahasa Arab untuk Non-Arab, Universitas Ummul Qurra, Makkah Arab Saudi.

Wartawan Suara Hidayatullah, Masykur, mewawancarai Banaemah Juli tahun lalu saat mengikuti program pelatihan mengajar bahasa Arab untuk para pengajar bahasa Arab. Banaemah merasakan adanya semangat persaudaraan, dakwah, dan gairah belajar yang
tinggi dari orang-orang non-Arab yang datang dari jauh “ Katanya, dengan mengajar orang-orang no-Arab seolah-olah membawanya menjelajah pelosok dunia. Dirinya merasa sedang tidak berada di Makkah saat mengajar orang-orang non-Arab.

“Kami justru merasa lebih menikmati mengajarkan hal sederhana kepada mahasiswa non-Arab dibanding mengajar sesuatu yang rumit kepada orang-orang Arab sendiri,” pungkas Banaemah.*


Sumber  : Majalah Hidayatullah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar