Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar
Banyak hikmah di balik turunnya Alquran secara berangsur-angsur.
Dalam perspektif ilmu Alquran kata al-Inzal umumnya diartikan proses dengan penurunan Alquran oleh Allah SWT ke langit dunia secara sekaligus.
Sedangkan, kata al-tanzil diartikan turunnya Alquran berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW. Termasuk yang berpendapat seperti ini ialah ar-Raghib al-Ishfahani.
Dia mendasarkan pendapatnya pada hadis Nabi yang disampaikan Abdullah bin Abbas, “Allah menurunkan Alquran sekaligus ke langit dunia, tempat turunnya secara berangsur-angsur. Lalu, Dia menurunkannya kepada Rasul-Nya SAW bagian demi bagian.” (HR al-Hakim dan al-Baihaqi)
Dalam redaksi lain Ibnu Abbas mengatakan, “Alquran diturunkan pada malam Lailatul Qadar pada bulan Ramadhan ke langit dunia sekaligus, lalu Dia menurunkan secara berangsur-angsur.” (HR at-Thabrani)
Turunnya Alquran sekaligus dari Allah ke Lauh al-Mahfuz atau kepada Jibril bisa dimaklumi karena keduanya tidak memerlukan dimensi waktu. Berbeda ketika Alquran diteruskan kepada Muhammad SAW, dilakukan dengan proses berangsur-angsur karena Rasul terikat dengan dimensi ruang dan waktu.
Seperti diketahui bahwa Alquran tidak diturunkan di dalam ruang kosong yang hampa budaya, tetapi turun di dalam suatu konteks masyarakat yang plural. Karena itu, Alquran membutuhkan waktu selama 23 tahun dalam dua periode yang lebih dikenal dengan periode Makkah dan Madinah.
Di antara hikmah turunnya Alquran berangsur-angsur kepada Nabi, menurut mayoritas ulama, ialah pertama, untuk menguatkan dan meneguhkan hati Nabi dalam rangka menyampaikan dakwahnya untuk menghadapi celaan orang-orang musyrik.
Sebagaimana firman Allah, “Berkatalah orang-orang kafir, ‘Mengapa Alquran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?’ Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).” (QS al-Furqan [25]:32).
Kedua, untuk memudahkan hafalan dan pemahaman karena Alquran diturunkan di tengah-tengah umat yang tidak pandai membaca dan menulis (ummi), sebagaimana diisyaratkan dalam Alquran, “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS al-Qamar [54]:17).
Ketiga, sebagai pendidikan dan iktibar bagi umat Islam bahwa Allah pun menggunakan waktu yang relatif lama (23 tahun) dalam menurunkan Alquran. Padahal, Dia memiliki kemampuan Mahakreatif, “Kun fayakuun.”
Banyak hikmah di balik turunnya Alquran secara berangsur-angsur.
Dalam perspektif ilmu Alquran kata al-Inzal umumnya diartikan proses dengan penurunan Alquran oleh Allah SWT ke langit dunia secara sekaligus.
Sedangkan, kata al-tanzil diartikan turunnya Alquran berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW. Termasuk yang berpendapat seperti ini ialah ar-Raghib al-Ishfahani.
Dia mendasarkan pendapatnya pada hadis Nabi yang disampaikan Abdullah bin Abbas, “Allah menurunkan Alquran sekaligus ke langit dunia, tempat turunnya secara berangsur-angsur. Lalu, Dia menurunkannya kepada Rasul-Nya SAW bagian demi bagian.” (HR al-Hakim dan al-Baihaqi)
Dalam redaksi lain Ibnu Abbas mengatakan, “Alquran diturunkan pada malam Lailatul Qadar pada bulan Ramadhan ke langit dunia sekaligus, lalu Dia menurunkan secara berangsur-angsur.” (HR at-Thabrani)
Turunnya Alquran sekaligus dari Allah ke Lauh al-Mahfuz atau kepada Jibril bisa dimaklumi karena keduanya tidak memerlukan dimensi waktu. Berbeda ketika Alquran diteruskan kepada Muhammad SAW, dilakukan dengan proses berangsur-angsur karena Rasul terikat dengan dimensi ruang dan waktu.
Seperti diketahui bahwa Alquran tidak diturunkan di dalam ruang kosong yang hampa budaya, tetapi turun di dalam suatu konteks masyarakat yang plural. Karena itu, Alquran membutuhkan waktu selama 23 tahun dalam dua periode yang lebih dikenal dengan periode Makkah dan Madinah.
Di antara hikmah turunnya Alquran berangsur-angsur kepada Nabi, menurut mayoritas ulama, ialah pertama, untuk menguatkan dan meneguhkan hati Nabi dalam rangka menyampaikan dakwahnya untuk menghadapi celaan orang-orang musyrik.
Sebagaimana firman Allah, “Berkatalah orang-orang kafir, ‘Mengapa Alquran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?’ Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).” (QS al-Furqan [25]:32).
Kedua, untuk memudahkan hafalan dan pemahaman karena Alquran diturunkan di tengah-tengah umat yang tidak pandai membaca dan menulis (ummi), sebagaimana diisyaratkan dalam Alquran, “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS al-Qamar [54]:17).
Ketiga, sebagai pendidikan dan iktibar bagi umat Islam bahwa Allah pun menggunakan waktu yang relatif lama (23 tahun) dalam menurunkan Alquran. Padahal, Dia memiliki kemampuan Mahakreatif, “Kun fayakuun.”
Dalam perspektif tasawuf, dari segi kebahasaan sama dengan
pendapat mayoritas ulama yang menyatakan bahwa kata al-inzal
adalah penurunan secara sekaligus dan kata al-tanzil berarti penurunan
secara bertahap.
Akan tetapi, menurut kalangan ulama tasawuf, kata nazala (turun) di sini bukan turun dalam konteks dimensi tempat, yaitu dari atas ke bawah, tetapi turun dalam konteks martabat atau status.
Mungkin padanannya dalam bahasa Inggris, yaitu descent, yang lebih dekat pada “manifestasi”. Kata nazala itu sendiri bisa berarti transformasi dari alam gaib ke alam nyata (syahadah), dari supranatural ke natural, transformasi dari dunia metafisik ke fisik, atau dari alam rohani ke alam jasad.
Ketika masih di dalam alam gaib, supranatural, metafisik, atau rohani Kalam Ilahi tidak membutuhkan proses tahapan karena alam-alam tersebut masih termasuk alam bebas yang tidak terikat oleh dimensi waktu dan ruang. Mobilitas dan transformasi di sana lebih cepat dan akurat karena serba terukur.
Namun, mobilitas dan transformasi di alam syahadah, natural, fisik, dan jasad sudah barang tentu mengalami peroses penahapan karena alam tersebut sudah terikat dengan dimensi waktu.
Seseorang yang berencana pergi ke Makkah, tidak mungkin sampai ke sana tanpa menggunakan sarana transportasi fisik, seperti pesawat, perahu, dan lain-lain. Kalau nyawa sudah lenyap, rohani dan jasmani sudah berpisah. Kalau ruh sudah berpisah dengan jasad maka dengan leluasa ruh itu bisa ke mana-mana dengan mudah karena sudah terbawah.
Apa yang turun, siapa yang menurunkan, kepada siapa diturunkan, melalui siapa dan apa diturunkan? Pertanyaan-pertanyaan ini dibahas secara mendalam di dalam kitab-kitab tasawuf.
Di antara yang membahas persoalan ini ialah Ibn Arabi dan para pemberi annotasi (musyarrih) kitab-kitabnya, seperti Syekh Abdur Razzaq al-Qasyani, Shainuddin Ali bin Muhammad at-Turkah, dan Muayyiduddin al-Jundi yang mensyarah kitab Fushush al-Hikam.
Mengenai apa yang turun tentu saja ayat-ayat-Nya dalam berbagai form. Dalam artikel terdahulu sudah pernah dibahas tentang apa arti ayat menurut kalangan sufi, yaitu ayat dalam bentuk kitabiyyah, kauniyyah, dan manusia (anfus).
Yang berperan pada proses penurunan ayat dan kalam Ilahi juga sudah pernah dibahas dalam artikel terdahulu, peranan malaikat Jibril dan hubungan antara firman (kalam), pena (qalam), lembaran (Wa Ma Yasthurun), dan para nabi.
Akan tetapi, menurut kalangan ulama tasawuf, kata nazala (turun) di sini bukan turun dalam konteks dimensi tempat, yaitu dari atas ke bawah, tetapi turun dalam konteks martabat atau status.
Mungkin padanannya dalam bahasa Inggris, yaitu descent, yang lebih dekat pada “manifestasi”. Kata nazala itu sendiri bisa berarti transformasi dari alam gaib ke alam nyata (syahadah), dari supranatural ke natural, transformasi dari dunia metafisik ke fisik, atau dari alam rohani ke alam jasad.
Ketika masih di dalam alam gaib, supranatural, metafisik, atau rohani Kalam Ilahi tidak membutuhkan proses tahapan karena alam-alam tersebut masih termasuk alam bebas yang tidak terikat oleh dimensi waktu dan ruang. Mobilitas dan transformasi di sana lebih cepat dan akurat karena serba terukur.
Namun, mobilitas dan transformasi di alam syahadah, natural, fisik, dan jasad sudah barang tentu mengalami peroses penahapan karena alam tersebut sudah terikat dengan dimensi waktu.
Seseorang yang berencana pergi ke Makkah, tidak mungkin sampai ke sana tanpa menggunakan sarana transportasi fisik, seperti pesawat, perahu, dan lain-lain. Kalau nyawa sudah lenyap, rohani dan jasmani sudah berpisah. Kalau ruh sudah berpisah dengan jasad maka dengan leluasa ruh itu bisa ke mana-mana dengan mudah karena sudah terbawah.
Apa yang turun, siapa yang menurunkan, kepada siapa diturunkan, melalui siapa dan apa diturunkan? Pertanyaan-pertanyaan ini dibahas secara mendalam di dalam kitab-kitab tasawuf.
Di antara yang membahas persoalan ini ialah Ibn Arabi dan para pemberi annotasi (musyarrih) kitab-kitabnya, seperti Syekh Abdur Razzaq al-Qasyani, Shainuddin Ali bin Muhammad at-Turkah, dan Muayyiduddin al-Jundi yang mensyarah kitab Fushush al-Hikam.
Mengenai apa yang turun tentu saja ayat-ayat-Nya dalam berbagai form. Dalam artikel terdahulu sudah pernah dibahas tentang apa arti ayat menurut kalangan sufi, yaitu ayat dalam bentuk kitabiyyah, kauniyyah, dan manusia (anfus).
Yang berperan pada proses penurunan ayat dan kalam Ilahi juga sudah pernah dibahas dalam artikel terdahulu, peranan malaikat Jibril dan hubungan antara firman (kalam), pena (qalam), lembaran (Wa Ma Yasthurun), dan para nabi.
Dalam dunia gaib, supranatural, atau metafisik, hukum-hukum
dimensi waktu dan tempat tidak berlaku. Sesuatu itu bisa bertransformasi dan
bermanifestasi atau melakukan mobilitas ke mana saja tanpa terikat dengan
dimensi ruang dan waktu.
Sudah barang tentu juga termasuk kalam Allah SWT yang kemudian disebut al-Kitab (Taurat, Injil, Zabur, dan Alquran). Ketika masih di alam sana, kalam Allah bisa ditransformasikan sekaligus (al-inzal). Akan tetapi, ketika diturunkan ke langit bumi, di mana tujuannya ialah manusia (para nabi), proses turunnya memerlukan waktu (at-tanzil).
Apa sesungguhnya yang turun? Apakah hanya wahyu atau ada sesuatu selain wahyu? Di dalam Alquran dijelaskan: “Inna anzalnahu fi lailal al-qadr (Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan).” (QS al-Qadr [97]:1).
Akan tetapi, ayat ini hanya menggunakan kata ganti (dhamir) hu. Apa sesungguhnya yang ditunjuk dengan dhamir hu tersebut?
Alquran tidak mengatakan “inna anzalna Alquran”, sehingga terbuka peluang untuk menafsirkan bahwa selain wahyu (Alquran), ada sesuatu yang lain selainnya, yaitu ilham, hikmah, dan taklim.
Perbedaannya ialah wahyu diturunkan kepada nabi, ilham dan hikmah diberikan kepada para wali atau hamba pilihan Tuhan lainnya.
Menurut Ibnu Arabi, imajinasi cerdas yang tiba-tiba muncul di dalam diri seseorang kemudian melahirkan pencerahan atau menjadi solusi efektif menjawab persoalan yang dihadapi, itu bukan ciptaan orang yang bersangkutan, tetapi bagian yang turun (al-tanzil) dari Allah SWT.
Isyarat adanya sesuatu selain berupa wahyu yang turun dari Allah kepada orang-orang pilihannya telah diisyaratkan dalam beberapa ayat, antara lain:
“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) sesuatu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: ‘Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku.’” (QS an-Nahl [16]:2).
“Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Mahapenyantun lagi Mahapenyayang terhadapmu.” (QS al-Hadid [57]:9).
Kedua ayat ini tidak jelas menunjukkan wahyu, sehingga bisa dipahami dalam bentuk insight lain berupa hikmah, ilham, atau ta'lim kepada hamba-Nya. Tentu saja tidak sembarang hamba yang bisa mendapatkan insight semacam itu. Tentulah hamba yang selama ini dinilai Allah SWT telah dapat memenuhi syarat atau kriteria yang telah ditetapkan-Nya.
Sudah barang tentu juga termasuk kalam Allah SWT yang kemudian disebut al-Kitab (Taurat, Injil, Zabur, dan Alquran). Ketika masih di alam sana, kalam Allah bisa ditransformasikan sekaligus (al-inzal). Akan tetapi, ketika diturunkan ke langit bumi, di mana tujuannya ialah manusia (para nabi), proses turunnya memerlukan waktu (at-tanzil).
Apa sesungguhnya yang turun? Apakah hanya wahyu atau ada sesuatu selain wahyu? Di dalam Alquran dijelaskan: “Inna anzalnahu fi lailal al-qadr (Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan).” (QS al-Qadr [97]:1).
Akan tetapi, ayat ini hanya menggunakan kata ganti (dhamir) hu. Apa sesungguhnya yang ditunjuk dengan dhamir hu tersebut?
Alquran tidak mengatakan “inna anzalna Alquran”, sehingga terbuka peluang untuk menafsirkan bahwa selain wahyu (Alquran), ada sesuatu yang lain selainnya, yaitu ilham, hikmah, dan taklim.
Perbedaannya ialah wahyu diturunkan kepada nabi, ilham dan hikmah diberikan kepada para wali atau hamba pilihan Tuhan lainnya.
Menurut Ibnu Arabi, imajinasi cerdas yang tiba-tiba muncul di dalam diri seseorang kemudian melahirkan pencerahan atau menjadi solusi efektif menjawab persoalan yang dihadapi, itu bukan ciptaan orang yang bersangkutan, tetapi bagian yang turun (al-tanzil) dari Allah SWT.
Isyarat adanya sesuatu selain berupa wahyu yang turun dari Allah kepada orang-orang pilihannya telah diisyaratkan dalam beberapa ayat, antara lain:
“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) sesuatu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: ‘Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku.’” (QS an-Nahl [16]:2).
“Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Mahapenyantun lagi Mahapenyayang terhadapmu.” (QS al-Hadid [57]:9).
Kedua ayat ini tidak jelas menunjukkan wahyu, sehingga bisa dipahami dalam bentuk insight lain berupa hikmah, ilham, atau ta'lim kepada hamba-Nya. Tentu saja tidak sembarang hamba yang bisa mendapatkan insight semacam itu. Tentulah hamba yang selama ini dinilai Allah SWT telah dapat memenuhi syarat atau kriteria yang telah ditetapkan-Nya.
Sesuatu yang turun (al-tanzil) sekaligus merupakan bentuk
“pertolongan” (isti'anah) Allah SWT. Isti'anah adalah bagian dari efek ketaatan
dan penyembahan (ta'abbud) seorang hamba terhadap Tuhannya.
Ta'abbud adalah bentuk pendakian (taraqqi) seorang hamba menuju Tuhannya. Dengan taraqqi melalui ta'abbud maka terjadilah tanazul dalam wujud isti'anah, dan isti'anah bisa dalam bentuk ilham, hikmah, atau ta'lim.
Jika seseorang sudah mendapatkan isti'anah atau al-inzal maka peluang bagi yang bersangkutan untuk melakukan pendakian (taraqqi) sudah lebih mudah karena sudah ada (“as-shirath”) yang dirintis. Analoginya ialah tangga lift akan lebih mudah turun-naik melalui jalur yang sudah disiapkan.
Jika seseorang memiliki kemudahan untuk “naik” (taraqqi) maka yang bersangkutan juga biasanya memiliki kemudahan mendapatkan sesuatu yang “turun” (tanazul). Kunci untuk memudahkan taraqqi dan tanazul ialah ta'abbud.
Tegasnya, jika seseorang menghendaki kemudahan mengakses tanazul-taraqqi tidak ada cara lain selain menempuh jalan ta'abbud.
Jalan ta'abbud dalam dunia tasawuf bermacam-macam. Ada jalur umum, yaitu syariat dalam konotasi fikih dan ada jalur khusus yang dalam dunia tasawuf lebih dikenal tarekat (thariqah) atau suluk.
Perbedaan antara keduanya dalam dunia ahlussunnah tidak terlalu jauh. Jalur pertama lebih menekankan aspek formal-logic, sedangkan jalur kedua lebih menekankan aspek hakikat dan atau substansi.
Kedua jalan ini sesungguhnya dapat disinergikan seperti yang diperkenalkan Imam al-Ghazali di dalam magnum opus-nya, Ihya' Ulum al-Din, suatu karya besar yang memadukan pendekatan fikih dan tasawuf terhadap syariat Islam.
Apakah sesuatu yang mengalami proses al-inzal dan at-tanzil sebagaimana yang dibicarakan dalam artikel-artikel terdahulu hanya Alquran? Bagaimana dengan ilham, irfan, hikmah, dan ta’lim?
Apakah hanya para nabi yang bisa mendapatkan sesuatu melalui kedua proses tersebut? Bagaimana dengan para wali, ahli menyepi (khalwat), atau kaum khawash al-khawash?
Ta'abbud adalah bentuk pendakian (taraqqi) seorang hamba menuju Tuhannya. Dengan taraqqi melalui ta'abbud maka terjadilah tanazul dalam wujud isti'anah, dan isti'anah bisa dalam bentuk ilham, hikmah, atau ta'lim.
Jika seseorang sudah mendapatkan isti'anah atau al-inzal maka peluang bagi yang bersangkutan untuk melakukan pendakian (taraqqi) sudah lebih mudah karena sudah ada (“as-shirath”) yang dirintis. Analoginya ialah tangga lift akan lebih mudah turun-naik melalui jalur yang sudah disiapkan.
Jika seseorang memiliki kemudahan untuk “naik” (taraqqi) maka yang bersangkutan juga biasanya memiliki kemudahan mendapatkan sesuatu yang “turun” (tanazul). Kunci untuk memudahkan taraqqi dan tanazul ialah ta'abbud.
Tegasnya, jika seseorang menghendaki kemudahan mengakses tanazul-taraqqi tidak ada cara lain selain menempuh jalan ta'abbud.
Jalan ta'abbud dalam dunia tasawuf bermacam-macam. Ada jalur umum, yaitu syariat dalam konotasi fikih dan ada jalur khusus yang dalam dunia tasawuf lebih dikenal tarekat (thariqah) atau suluk.
Perbedaan antara keduanya dalam dunia ahlussunnah tidak terlalu jauh. Jalur pertama lebih menekankan aspek formal-logic, sedangkan jalur kedua lebih menekankan aspek hakikat dan atau substansi.
Kedua jalan ini sesungguhnya dapat disinergikan seperti yang diperkenalkan Imam al-Ghazali di dalam magnum opus-nya, Ihya' Ulum al-Din, suatu karya besar yang memadukan pendekatan fikih dan tasawuf terhadap syariat Islam.
Apakah sesuatu yang mengalami proses al-inzal dan at-tanzil sebagaimana yang dibicarakan dalam artikel-artikel terdahulu hanya Alquran? Bagaimana dengan ilham, irfan, hikmah, dan ta’lim?
Apakah hanya para nabi yang bisa mendapatkan sesuatu melalui kedua proses tersebut? Bagaimana dengan para wali, ahli menyepi (khalwat), atau kaum khawash al-khawash?
Dalam kitab Syarah Fushush al-Hikam karangan
Muayyiduddin al-Jundi halaman 82 disebutkan, sesuatu yang melalui al-inzal dan
at-tanzil dari Allah SWT bukan hanya Alquran, melainkan juga ilham, hikmah,
atau semacamnya.
Orang-orang yang berhak menerimanya pun tidak hanya para nabi, tetapi juga manusia-manusia pilihan Tuhan selain para nabi-Nya.
Ia mengatakan bahwa sesuatu yang turun (al-inzal wa an-nuzul) dari sisi-Nya atau yang naik (’uruj) ke hadirat-Nya adalah sesuatu yang relatif (nisbi), tidak ditentukan kriteria formalnya, yang jelas siapa pun di sisi Tuhan sudah sampai ke tingkat hakikat kalbu insan kamil (haqaiq al-qulub al-insaniyyah al-kamaliyyah), dapat mengaksesnya.
Ia mengatakan hal ini ketika mengomentari peristiwa turunnya kitab Fushush al-Hikam yang diberikan kepada salah seorang hamba-Nya bernama Ibn Arabi. Sebagaimana kita ketahui bahwa hadirnya bercorak tasawuf itu memiliki cerita khusus.
Disebutkan dalam penjelas kitab Fushush al-Hikam, karya Shainuddin Ali ibn Muhammad al-Turkah (jilid I/hal 8) bahwa, “Aku melihat Rasulullah SAW di dalam suatu mimpi (mubasysyirah) dalam sepuluh terakhir dari Muharram, 627 H di Damsyik (Damaskus, Suriah sekarang) dan di tangan Rasulullah SAW memegang sebuah kitab.”
“Rasul berkata kepadaku, ‘Ini kitab Fushush al-Hikam, ambillah dan sampaikanlah ini kepada manusia agar bisa memanfaatkannya.’ Lalu, aku mengatakan, “Respek dan ketaatan hanya kepada Allah, rasul-Nya, dan ulil amri dari kalangan kami, sebagaimana diperintahkan kepada kami.”
Dengan tegas Al-Turkah mengatakan, “Kitab ini (Fushush al-Hikam) berasal dari Rasulullah SAW, sebagaimana Alquran adalah kitab yang diturunkan kepadanya.” (hal 9).
Pengalaman seperti yang dialami oleh Ibn Arabi banyak juga dialami oleh golongan para ulama “elite” lainnya, sebagaimana dapat dilihat di dalam kitab Jami’ Karamat al-Auliya’, semacam ensiklopedia para wali karangan Yusuf Ibn IsmaĆl am-Nabhani yang terdiri atas dua jilid.
Dalam kitab ini dipaparkan beberapa rahasia keajaiban (karamat) 695 wali yang disebutnya sebagai wali (al-auliya’). Ternyata, komunikasi spiritual antara para arwah, nabi, jin, malaikat, bahkan Allah sering dilakukan oleh para auliya’.
Orang-orang yang berhak menerimanya pun tidak hanya para nabi, tetapi juga manusia-manusia pilihan Tuhan selain para nabi-Nya.
Ia mengatakan bahwa sesuatu yang turun (al-inzal wa an-nuzul) dari sisi-Nya atau yang naik (’uruj) ke hadirat-Nya adalah sesuatu yang relatif (nisbi), tidak ditentukan kriteria formalnya, yang jelas siapa pun di sisi Tuhan sudah sampai ke tingkat hakikat kalbu insan kamil (haqaiq al-qulub al-insaniyyah al-kamaliyyah), dapat mengaksesnya.
Ia mengatakan hal ini ketika mengomentari peristiwa turunnya kitab Fushush al-Hikam yang diberikan kepada salah seorang hamba-Nya bernama Ibn Arabi. Sebagaimana kita ketahui bahwa hadirnya bercorak tasawuf itu memiliki cerita khusus.
Disebutkan dalam penjelas kitab Fushush al-Hikam, karya Shainuddin Ali ibn Muhammad al-Turkah (jilid I/hal 8) bahwa, “Aku melihat Rasulullah SAW di dalam suatu mimpi (mubasysyirah) dalam sepuluh terakhir dari Muharram, 627 H di Damsyik (Damaskus, Suriah sekarang) dan di tangan Rasulullah SAW memegang sebuah kitab.”
“Rasul berkata kepadaku, ‘Ini kitab Fushush al-Hikam, ambillah dan sampaikanlah ini kepada manusia agar bisa memanfaatkannya.’ Lalu, aku mengatakan, “Respek dan ketaatan hanya kepada Allah, rasul-Nya, dan ulil amri dari kalangan kami, sebagaimana diperintahkan kepada kami.”
Dengan tegas Al-Turkah mengatakan, “Kitab ini (Fushush al-Hikam) berasal dari Rasulullah SAW, sebagaimana Alquran adalah kitab yang diturunkan kepadanya.” (hal 9).
Pengalaman seperti yang dialami oleh Ibn Arabi banyak juga dialami oleh golongan para ulama “elite” lainnya, sebagaimana dapat dilihat di dalam kitab Jami’ Karamat al-Auliya’, semacam ensiklopedia para wali karangan Yusuf Ibn IsmaĆl am-Nabhani yang terdiri atas dua jilid.
Dalam kitab ini dipaparkan beberapa rahasia keajaiban (karamat) 695 wali yang disebutnya sebagai wali (al-auliya’). Ternyata, komunikasi spiritual antara para arwah, nabi, jin, malaikat, bahkan Allah sering dilakukan oleh para auliya’.
Banyak sekali buku atau pernyataan di dalam buku merupakan
koleksi dari hubungan misteri antara yang bersangkutan dan orang-orang tertentu
atau sumber-sumber lainnya yang dinilainya merupakan hidayah dari Allah.
Sebutlah misalnya Imam Ibnu Hajar al-Asqalani yang menulis sedemikian banyak kitab, termasuk kitab Fath al-Bary fi Syarh Shahih al-Bukhari (13 jilid), Imam Syafi’i yang mengarang kitab Al-Umm yang berjilid-jilid, dan Imam al-Ghazali yang salah satu karya monumentalnya ialah Ihya’ Ulum al-Din.
Dalam kitab terakhir ini menarik untuk diperhatikan pengalaman seorang muridnya yang mempertanyakan beberapa hadis di dalam kitab Al-Ihya’ tidak ditemukan di dalam kitab-kitab lain.
Lalu, Imam al-Ghazali mengungkapkan kalau dirinya tidak pernah menulis sebuah hadis sebelum mengonfirmasikannya langsung kepada Nabi Muhammad SAW. Padahal, ia wafat pada 1111 M, sedangkan Rasulullah wafat 634 M.
Bisa dibayangkan, jika ada sekitar 200 hadis di dalam kitab Al-Ihya maka 200 kali ia berjumpa dengan Rasulullah SAW. Itu baru satu kitabnya. Bagaimana dengan kitab-kitab lainnya?
Perjumpaan Nabi Muhammad dengan orang-orang tertentu bagi orang yang meyakini keberadaan hadis sulit untuk ditolak keberadaannya. Dalam sebuah hadis sahih riwayat Imam Bukhari dijelaskan, “Barang siapa yang berjumpa denganku dalam mimpi maka aku betul-betul yang disaksikannya karena satu-satunya orang yang tidak bisa dipalsukan wajahnya oleh iblis ialah wajahku.”
Orang-orang yang berjumpa dengan Rasulullah dalam lintasan sejarah banyak sekali. Hampir semua nama yang diungkap di dalam kitab Jami’ Karamat al-Auliya’ karya Yusuf an-Nabhani pernah berjumpa dengan Rasul.
Inspirasi cerdas yang bersumber dari Allah SWT, apa pun namanya, bukan buatan manusia, melainkan sesuatu yang muncul atau turun dari Allah. Inspirasi cerdas itu kemudian diklasifikasi menjadi wahyu untuk para nabi, ilham untuk para wali, hikmah untuk para ulama bijak, dan ta’lim bagi para peniti tangga takwa (salikin).
Kualifikasi validitasnya juga diklasifikasikan menjadi kebenaran haqq al-yaqin untuk wahyu, ain al-yaqin untuk ilham, dan ilm al-yaqin untuk hikmah, dan taklim.
Berdasarkan uraian di atas, dipahami bahwa sesuatu yang turun dari Allah, apakah itu melalui proses al-inzal atau at-tanzil, dapat dialami oleh siapa pun, orang-orang yang dikehendaki Allah SWT.
Dalam kisah-kisah Alquran juga disebutkan sejumlah manusia utama mendapatkan inspirasi cerdas langsung dari Allah. Kita kenal nama-nama besar, seperti ibunya Nabi Musa (Umm Musa), Maryam, dan Luqman. Bahkan, dua nama terakhir malah dipilih menjadi nama surah dalam Alquran, yaitu surah Maryam [19] dan surah Luqman [31].
Bagaimana memahami misteri turunnya wahyu, ilham, hikmah, dan taklim, insya Allah akan diuraikan dalam artikel mendatang. Allahu a’lam.
Sebutlah misalnya Imam Ibnu Hajar al-Asqalani yang menulis sedemikian banyak kitab, termasuk kitab Fath al-Bary fi Syarh Shahih al-Bukhari (13 jilid), Imam Syafi’i yang mengarang kitab Al-Umm yang berjilid-jilid, dan Imam al-Ghazali yang salah satu karya monumentalnya ialah Ihya’ Ulum al-Din.
Dalam kitab terakhir ini menarik untuk diperhatikan pengalaman seorang muridnya yang mempertanyakan beberapa hadis di dalam kitab Al-Ihya’ tidak ditemukan di dalam kitab-kitab lain.
Lalu, Imam al-Ghazali mengungkapkan kalau dirinya tidak pernah menulis sebuah hadis sebelum mengonfirmasikannya langsung kepada Nabi Muhammad SAW. Padahal, ia wafat pada 1111 M, sedangkan Rasulullah wafat 634 M.
Bisa dibayangkan, jika ada sekitar 200 hadis di dalam kitab Al-Ihya maka 200 kali ia berjumpa dengan Rasulullah SAW. Itu baru satu kitabnya. Bagaimana dengan kitab-kitab lainnya?
Perjumpaan Nabi Muhammad dengan orang-orang tertentu bagi orang yang meyakini keberadaan hadis sulit untuk ditolak keberadaannya. Dalam sebuah hadis sahih riwayat Imam Bukhari dijelaskan, “Barang siapa yang berjumpa denganku dalam mimpi maka aku betul-betul yang disaksikannya karena satu-satunya orang yang tidak bisa dipalsukan wajahnya oleh iblis ialah wajahku.”
Orang-orang yang berjumpa dengan Rasulullah dalam lintasan sejarah banyak sekali. Hampir semua nama yang diungkap di dalam kitab Jami’ Karamat al-Auliya’ karya Yusuf an-Nabhani pernah berjumpa dengan Rasul.
Inspirasi cerdas yang bersumber dari Allah SWT, apa pun namanya, bukan buatan manusia, melainkan sesuatu yang muncul atau turun dari Allah. Inspirasi cerdas itu kemudian diklasifikasi menjadi wahyu untuk para nabi, ilham untuk para wali, hikmah untuk para ulama bijak, dan ta’lim bagi para peniti tangga takwa (salikin).
Kualifikasi validitasnya juga diklasifikasikan menjadi kebenaran haqq al-yaqin untuk wahyu, ain al-yaqin untuk ilham, dan ilm al-yaqin untuk hikmah, dan taklim.
Berdasarkan uraian di atas, dipahami bahwa sesuatu yang turun dari Allah, apakah itu melalui proses al-inzal atau at-tanzil, dapat dialami oleh siapa pun, orang-orang yang dikehendaki Allah SWT.
Dalam kisah-kisah Alquran juga disebutkan sejumlah manusia utama mendapatkan inspirasi cerdas langsung dari Allah. Kita kenal nama-nama besar, seperti ibunya Nabi Musa (Umm Musa), Maryam, dan Luqman. Bahkan, dua nama terakhir malah dipilih menjadi nama surah dalam Alquran, yaitu surah Maryam [19] dan surah Luqman [31].
Bagaimana memahami misteri turunnya wahyu, ilham, hikmah, dan taklim, insya Allah akan diuraikan dalam artikel mendatang. Allahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar