Oleh: Ustaz Arifin Ilham
Ramadhan telah benar-benar berpulang ke
ribaan-Nya. Hal yang pasti bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, tersisa
sepenggal duka bercampur asa. Terbayang saat-saat indah Ramadhan; full
ibadah dan amal saleh. Karena itu, hati pun berandai; sekiranya setiap
bulan dalam setahun adalah Ramadhan.
Ramadhan telah benar-benar berpulang ke
ribaan-Nya. Hal yang pasti bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, tersisa
sepenggal duka bercampur asa. Terbayang saat-saat indah Ramadhan; full
ibadah dan amal saleh. Karena itu, hati pun berandai; sekiranya setiap
bulan dalam setahun adalah Ramadhan.
Namun, Allah 'Azza wa Jalla telah
menetapkan segala sesuatu dengan hikmah-Nya. Saatnya kita menatap
hari-hari Syawal dan seterusnya dengan semangat Ramadhan. Yuk, kembali
kita shaum. Bahkan, karena itu dengan makna yang khusus, mengapa setelah
shaum Ramadhan selesai segera dilanjut shaum Syawal selama enam hari.
Ternyata, kita memang diminta untuk melanjutkan shaum kita.
Syawal baru satu pekan berjalan. Jadi,
masih banyak kesempatan untuk bersegera mengamalkannya. Afdalnya,
selepas hari Id, besoknya kita melaksanakan shaum. Tapi, menurut banyak
ulama, tidak masalah jika dikerjakan tidak persis selepas Id; hari kapan
pun boleh asal di bulan Syawal.
Kita simak dulu sabda Rasulullah SAW,
"Barang siapa telah berpuasa Ramadhan dan kemudian dia mengikutkannya
dengan puasa enam hari pada Syawal maka dia seperti orang yang berpuasa
selama satu tahun." (HR Muslim).
Mengapa kita perlu shaum lagi di bulan
Syawal? Pertama, tentu sangat ingin nilai puasa kita menjadi sempurna,
bahkan ternilai puasa setahun penuh. Maka, dengan shaum Syawal, insya
Allah, menjadi sempurna puasa kita. Kedua, sebuah ikhtiar untuk dicintai
Allah dan meraih ampunan-Nya. (QS Ali Imron [3]: 31).
Ketiga, demi meraih syafaat Rasulullah
dan kelak bisa dibersamakan dengan beliau dalam Jannah-Nya karena
menghidupkan sunah Beliau, "Siapa yang menghidupkan sunahku maka sungguh
ia mencintaiku, dan siapa yang mencintaiku, bersamaku di surge." (HR At
Tirmidzi).
Keempat, tanda jelas meningkat iman dan
takwa. Karena itulah disebut "Syawal", bulan peningkatan (syahrut
tarqiyyah). Kelima, menutupi hal-hal yang kurang selama shaum Ramadhan.
Keenam, di antara tanda ikhlas. Apa pasal? Karena gemar dengan amal
sunah, kalau wajib ya kewajiban, tetapi kalau sunah adalah kerelaan
seorang hamba mengabdi kepada-Nya. Ketujuh, cara terbaik memupuk
keimanan kepada Allah dan kecintaan kepada Nabi-Nya.
Kedelapan, sangat ringan karena hanya
enam hari. Sebulan saja sanggup, apalagi hanya enam hari, pastinya dan
seharusnya sangat bisa. Dorongan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya yang
mendesakkan untuk mengamalkannya.
Kesembilan, hamba Allah yang beriman dan yang cerdas itu adalah pasti semua sunah dihidupkan sebagai bekal di akhirat kelak.
Bagi Muslim yang berutang, tentu lebih
utama membayar puasa dulu, baru shaum enam hari Syawal. Semoga, Allah
selalu hiasi hidup kita dengan menghidupkan sunah-sunah Nabi Muhammad
SAW. Amin.
Sumber : Republika online