Oleh: Muhbib Abdul Wahab
Dalam sebuah
peperangan, Ali bin Abi Thalib- Karramallahu wajhah - terlibat duel dengan
salah satu jawara kaum musyrik. Ia berhasil menjatuhkan lawannya.
Ketika
Ali hendak membunuhnya, sang musuh meludahi Ali dan mengenai wajahnya.
Atas hal itu, Ali mengurungkan niatnya dan berlalu meninggalkannya.
Orang musyrik itu pun memandang aneh sikap Ali. “Hendak ke manakah engkau?” ujarnya.
Ali
menjawab, “Mulanya, aku berperang karena Allah, namun ketika engkau
melakukan apa yang telah engkau lakukan terhadapku (meludahiku), aku
khawatir membunuhmu hanya sebagai balas dendam dan pelampiasan
kemarahanku. Jadi, aku membebaskanmu karena Allah.”
Orang itu pun
berkata, “Semestinya kelakuanku lebih memancing kemarahanmu hingga
engkau segera membunuhku. Jika agama yang kalian anut sangat toleran,
maka sudah pasti ia adalah agama yang benar.”
Sekelumit kisah
tersebut menunjukkan setidaknya empat nilai akhlak mulia. Pertama,
menjaga ketulusan niat dan komitmen. Niat suci untuk berjihad karena
Allah SWT yang sudah dibulatkan dalam hati yang bersih tidak boleh
dinodai oleh niat lain yang dapat menggugurkan kesucian niat awal.
Jika
kesucian niat sudah terkontaminasi oleh hal-hal yang tidak mulia,
niscaya dapat merusak amal kebaikan dan menjadikannya tidak bermakna,
sia-sia di mata Allah SWT. (HR Bukhari dan Muslim).
Kedua,
menahan diri untuk tidak terprovokasi dan melakukan balas dendam
merupakan akhlak yang sangat terpuji, terutama dalam suasana permusuhan
dan peperangan. Manusia seringkali tidak bisa mengendalikan diri (emosi)
jika dimusuhi.
Dalam hal ini, Ali justru tidak sudi membunuh
musuh yang terang-terangan telah meludahinya, meskipun beliau dapat
melakukannya terhadap musuh yang sudah tidak berdaya.
“Orang
yang kuat bukanlah karena kehebatan kekuatannya, akan tetapi orang yang
kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya di saat marah.”
(Muttafaq 'alaih).
Ketiga, mengelola kemarahan dengan tidak
mendendam merupakan energi positif untuk memberi ruang bagi munculnya
sikap arif dan mau memaafkan orang lain. Memberi maaf jauh lebih baik
daripada melampiaskan balas dendam.
Alquran mengajarkan kepada
kita untuk membela diri jika diperlakukan secara zalim. Namun, memberi
maaf lalu berdamai itu pasti lebih indah dan damai. (QS as-Syura [42]:
39-40).
Keempat, sikap lapang dada dan besar hati untuk hidup
damai merupakan kata kunci toleransi dan kerukunan hidup. Kemarahan pada
dasarnya wajar (manusiawi), tetapi membiarkan kemarahan tanpa kendali
adalah awal dari sikap dan perilaku disharmoni.
Karena itu,
ketika ada seorang sahabat menemuni Nabi dan meminta nasihat kepadanya,
beliau menyatakan, “Jangan marah! (beliau mengulanginya sampai tiga
kali).” (HR Muslim).
Manajemen emosi dan kemarahan dapat diterapi
dengan berwudhu, karena marah itu ibarat bara api yang bergejolak dan
hanya dapat padam jika disiram dengan air.
Manajemen emosi bisa
berfungsi lebih efektif dan optimal jika dibarengi dengan zikrullah
(mengingat Allah), beristighfar kepada-Nya, mengingat kematian, berbaik
sangka, berpikir positif, dan bersabar. Wallahu a'lam.
Sumber : Republika Online, Rabu, 09 Januari 2013,
