|
Kaum Protestan Amerika mewarisi kebencian mereka terhadap Islam dari pendukung perubahan abad ke-16 di Eropa. Berdasarkan buku Thomas Jefferson’s Qur’an yang ditulis oleh Denise A. Spellberg, terdapat tiga orang yang menjadi pencetus dari anti-Islam di Eropa. Pencetus pertama adalah Protestan asal Jerman, Martin Luther (1483-1546). Menurutnya, Islam dan Katolik adalah ‘Antichrist’. “Inti dari Antichrist adalah paus, tapi kulitnya adalah the Turk,” ujar dia. The Turk adalah Sultan Ottoman yang ia anggap sebagai pimpinan Islam. Luther menganggap al-Qur’an sebagai buku yang berisi fitnah. Ia mendukung penerjemahan Qur’an ke Latin pada 1542 di Basel, Swiss, agar umat Kristiani dapat mempelajari kebohongan dan fabel. Untuk lebih mendoktrin pengikutnya, Luther juga menerjemahkan satu polemik anti-Islam pada abad ke-13 dan menulis dua risalah anti-Ottoman. |
Pencetus kedua adalah Protestan asal Perancis, John Calvin (1509-1564). Ia adalah ahli teologi yang pandangannya terhadap islam mempengaruhi kaum Protestan Amerika. Sama halnya dengan Luther, ia menganggap bahwa Islam adalah antichrist. Namun, bukan Sultan Ottoman yang ia anggap sebagai antichrist, melainkan Nabi Muhammad. Teologi Calvin sangat berpengaruh pada Protestan di Amerika Utara. Oleh karena itu, mayoritas dari penduduk awal Amerika mengadopsi pemikiran Calvin mengenai islam dan antichrist.
Pencetus ketiga adalah Protestan asal Inggris, John Foxe (1516-1587). Pada
1566, ia menulis buku yang menjelaskan asal mula Islam dan sejarah militer
Ottoman.
Foxe mendeskripsikan kekejaman Turki pada kaum Kristiani. Untuk menambah simpati dari para pembaca, ia melebih-lebihkan kekejaman bangsa Turki. Karya Foxe tersebut menjadi buku yang paling berpengaruh di antara Protestan martilogi di koloni Inggris Amerika.
Sumber : Republika
Online, Jumat, 24 Januari 2014
|
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Minggu, 02 Februari 2014
Pencetus Anti-Islam di Eropa
Label:
hikmah
Selasa, 21 Januari 2014
Mengikuti Fatwa Hati
Di antara kandungan hadits Arba’in Nawawiyyah yang ke-27 ini adalah penjelasan Rasulullah bahwa seorang sahabatnya, Wabishah bin Ma’bad ra, diperintahkan
beliau saw untuk berfatwa kepada hatinya, yaitu mengikuti “suara”
hatinya tersebut dan meninggalkan fatwa-fatwa yang diberikan oleh orang
lain. Dan bahwasanya “suara” hatinya itu merupakan tolok ukur baginya
untuk menilai apakah sesuatu itu merupakan kebajikan atau merupakan
dosa.
Jika hatinya merasa tenang, nyaman,
tenteram dan mantap, tidak ada keraguan, tidak ada ganjalan dan tidak
ada kekhawatiran atau ketakutan bila terlihat oleh orang lain, maka hal
itu merupakan kebajikan. Sementara, jika terjadi sebaliknya, maka itu
pertanda bahwa perkara yang akan dia lakukan itu adalah dosa.
Hal ini didasarkan kepada sabda
Rasulullah: Dan dari Wabishah bin Ma'bad ra, ia berkata, "Saya
mendatangi Rasulullah saw, lalu beliau bertanya, 'Engkau datang untuk
bertanya tentang kebajikan?' Saya menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda,
'Mintalah fatwa kepada hatimu; kebajikan adalah sesuatu yang jiwamu
tenteram kepadanya dan hatimu menjadi tenang, dan dosa adalah sesuatu
yang mengganjal di dalam jiwa dan ragu di dada, meski manusia memberi
fatwa kepadamu.” (Imam Nawawi berkata, "Hadits hasan, kami
meriwayatkannya dalam dua kitab Musnad; Ahmad bin Hanbal dan Ad-Darimi dengan isnad hasan.")
Tiga Macam Hati
Hadits Wabishah bin Ma’bad ra secara lahiriah dipahami bahwa fatwa “suara” hati lebih dikedepankan daripada fatwa mufti.
Lantas, perlu diketahui pula bahwa
berdasarkan kajian terhadap Al-Qur’an ataupun hadits Rasulullah, dapat
disimpulkan ada tiga macam hati, yaitu:
1. Al-Qalbu Al-Salim (hati yang sehat)
Secara harfiyah (lateral) istilah qalbun salim
disebut dua kali dalam Al-Qur’an, dan keduanya terkait dengan cerita
Nabi Ibrahim as, yaitu pada QS Asy-Syu’ara (26): 89 dan QS Ash-Shaffat
(37): 84.
Ibnul Qayyim rahimahullah mendefinisikannya sebagai berikut, “Yaitu hati yang selamat dari segala syahwat yang menyalahi perintah dan larangan Allah swt, yang selamat dari segala bentuk syubhat yang menjadikannya menentang segala berita dan informasi yang datang dari Allah, sehingga hati tersebut selamat dari penghambaan kepada selain Allah, juga selamat dari bertahkim kepada selain Rasulullah.”
Masih menurut Ibnu Qayyim, “Secara global, hati yang salim yang shahih adalah hati yang selamat dari segala bentuk penyekutuan (syirik)
dalam bentuk apa pun kepada selain Allah serta tulus murni semata-mata
menghambakan diri kepada Allah, baik dalam hal kehendak, tawakal, cinta,
kembali, tunduk, khusyu, takut dan harap.”
Hati yang seperti ini disebutkan
Rasulullah sebagai hati yang putih, bersih, bening nan jernih. Sebentuk
hati yang jika berhadapan dengan fitnah, ujian, cobaan dan godaan apa
pun—baik fitnah yang berupa ancaman, siksaan, penderitaan dan
semacamnya, maupun fitnah dalam bentuk godaan, iming-iming, harta,
wanita dan tahta—ia tidak akan bergeming, tergoda maupun goyah atau
limbung. Ia tetap dalam keimanan, keislaman dan keistiqamahannya.
Rasulullah bersabda, “Berbagai macam
fitnah akan dihadapkan kepada hati, seperti tikar, anyamannya satu satu.
Maka, hati yang menyerap fitnah itu akan ternoda hitam dan hati yang
menolak fitnah itu akan ditambah sinar kecemerlangannya. Sehingga
jadilah hati itu dua macam; ada yang putih seperti batu pualam yang
tidak ternoda oleh fitnah apa pun selama masih ada langit dan bumi.
Sedangkan lainnya adalah hati yang hitam legam, mirip teko yang
tertelungkup, yang tidak lagi mengenal yang ma’ruf dan tidak lagi
mengingkari yang munkar selain yang sesuai dengan hawa nafsunya” (Hadits
shahih, diriwayatkan oleh Muslim, hadits no. 207).
2. Al-Qalbu Al-Qasi (hati yang keras atau mati)
Maksudnya adalah hati yang keras atau mengeras. Istilahnya dalam Al-Qur’an qasat qulubuhum,
sebagaimana terdapat dalam QS Al-An’am (6): 43, atau QS Al-Hadid (57):
16. Hati yang seperti ini juga disebut oleh Al-Qur’an sebagai Al-Qalbu Al-Mayyit (hati yang mati), sebagaimana diisyaratkan dalam QS Al-An’am: 122.
Ibnul Qayyim rahimahullah
mendefinisikannya, “Hati yang menghambakan diri kepada selain Allah swt,
baik dari sisi cinta, takut, harap, ridha dan benci; jika ia membenci
sesuatu, ia membencinya karena hawa nafsunya, jika ia mencintai sesuatu,
ia mencintainya karena hawa nafsunya, jika ia memberikan sesuatu karena
hal itu sesuai dengan hawa nafsunya, jika ia menahan sesuatu dan tidak
memberikannya, hal itu ia lakukan karena hawa nafsunya.”
Ibnul Qayyim melanjutkan, “Jadi, hawa nafsu adalah imamnya, dan syahwat adalah komandannya, kebodohan merupakan sopirnya, dan ghaflah (lalai dari Allah swt) adalah kendaraannya.”
Hati yang seperti ini, oleh hadits
Rasulullah saw, seperti tersebut tadi, dinyatakan sebagai hati yang
hitam legam, tidak lagi mengenal al-ma’ruf sebagai ma’ruf dan tidak lagi mengingkari yang munkar. Ia hanya mengikuti hawa nafsunya.
3. Al-Qalbu Al-Maridh (hati yang sakit)
Pada dasarnya, hati yang sakit adalah
hati yang masih memiliki kehidupan, hanya saja ia terhinggapi penyakit.
Parah atau tidaknya kondisi hati ini bergantung kepada tingkat penyakit
yang menghinggapinya.
Hati yang seperti ini oleh Al-Qur’an diistilahkan dengan fi qulubihim maradhun
(di dalam hatinya terdapat penyakit), sebagaimana disebut dalam QS
Al-Baqarah (2): 10, QS Al-Maidah (5): 52, QS Al-Anfal (8): 49 dan
sebagainya.
Terkait dengan hal ini, Ibnul Qayyim
menjelaskan, “Pada dasarnya, di dalam hati yang sakit ini terdapat cinta
kepada Allah swt dan keimanan kepada-Nya, dan hal ini merupakan daya
hidupnya. Namun, di dalam hati ini pun terdapat kecintaan terhadap
segala bentuk syahwat dan ambisi untuk memperolehnya, padahal hal ini
merupakan rahasia kehancuran dan kebinasaannya.”
Hati yang Sehat, Sumber Fatwa
Hadits Wabishah bin Ma’bad ini, yang
secara lahiriah berisi perintah untuk berfatwa kepada hati, oleh para
pakar hadits ditujukan kepada mereka yang memiliki al-qalbu al-salim, hati yang sehat. Bukan untuk mereka yang hatinya keras atau mati. Juga bukan untuk mereka yang hatinya sakit.
Hati yang sehat, setelah bimbingan dan
taufik Allah swt, merupakan buah dari usaha yang sungguh-sungguh dari
manusia untuk mendidik, mentarbiyah dan melatih dirinya dengan berbagai
bentuk penghambaan dan taqarrub (pendekatan) kepada Allah
melalui pelaksanaan segala fardhu yang ditetapkan oleh Allah, ataupun
dengan meninggalkan segala yang haram yang dicegah oleh-Nya.
Upaya-upaya itu terus ditingkatkan
dengan cara menambahkan pelaksanaan yang fardhu tersebut dengan
melaksanakan yang sunnat dan meninggalkannya tanpa henti, dan terus
ditambahkan dengan upaya-upaya untuk memerangi segala syubhat dan syahwat yang selalu terpampang dihadapannya.
Juga tidak lupa dengan doa penuh
kesungguhan, memohon kepada Allah swt, sebagaimana yang dulu dipanjatkan
Nabi Muhammad saw, “…Ya Allah, berikanlah kepada hati kami
ketaqwaannya, dan sucikan hati kami, Engkau adalah Dzat yang mensucikan
hati, Engkau adalah Pemilik dan Tuan semua hati” (Hadits shahih,
diriwayatkan oleh Muslim, no. 4899).
Semoga dengan usaha yang sungguh-sungguh dan jihad ini, kita terbimbing untuk menjadi manusia yang memiliki al-qalbu al-salim. Amiin.
Sumber : Majalah Ummi, Kamis, 04 April 2013
Label:
hikmah
Rabu, 28 Agustus 2013
Merendahkan Perempuan
| Oleh: KH Didin Hafidhuddin Banyak ayat dan hadis yang menjelaskan kaum perempuan memiliki kedudukan yang mulia dalam kehidupan umat manusia. Dalam Alquran terdapat surah an-Nisa/surah perempuan yang sebagian besar isinya menggambarkan tentang kedudukan keluarga. Artinya, ini isyarat pemeran utama dalam membangun keluarga adalah kaum perempuan atau ibu. Anak dan keturunan yang saleh dan salihah pada umumnya adalah hasil dari belaian dan didikan ibunya. Al-uum al-madrasatul uula (ibu adalah sekolah pertama). Karena itu, penghormatan kepada ibu melebihi penghormatan kepada bapak. Meskipun, memang keduanya harus dihormati dan disayangi. Apalagi, ketika keduanya sudah memasuki usia tua atau uzur. Terkait hal ini, Allah SWT berfirman dalam surah al-Israa ayat 23-24. “Dan, Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah kami mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentah mereka serta ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan, rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’” Dalam tata cara berpakaian, perempuan diperintahkan menutup aurat. Ini bagian dari penghormatan dan penghargaan Islam terhadap mereka. Sekaligus, mereka akan merasa terjaga dan terpelihara kehormatan dirinya. | Perempuan yang berusaha menutup auratnya, di samping melaksanakan perintah agama, menghormati dirinya, juga memperlihatkan identitas dirinya sebagai Muslimah. Dalam surah al-Ahzab ayat 59, Allah menegaskan hal tersebut.
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal karena itu mereka tak diganggu. Dan, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” Berbeda dengan paham dan sikap dari golongan materialis dan sekuleris. Dengan mengatasnamakan kebebasan, kemerdekaan, dan hak asasi dinyatakan tak ada keharusan bagi perempuan menjaga kehormatan dirinya. Apalagi, menutup aurat. Menutup aurat, bagi mereka, mengekang kebebasan berekspresi bagi perempuan dan menghambat aktualisasi diri. Karena itu, apa yang akan dilakukan sekelompok orang dengan menyelenggarakan Miss World di Indonesia yang mayoritas Muslim, dianggap sah-sah saja oleh mereka. Padahal, ini cerminan dari perilaku yang merendahkan martabat perempuan. Ini juga menjatuhkan derajat mereka ke derajat yang paling rendah. Kegiatan ini, jika betul-betul dilaksanakan, hanyalah akan mengundang amarah dan kutukan dari Allah SWT. Allah berfirman dalam surah al-A’raf ayat 96, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. ’” Wallahu a’lam. Sumber : Republika Online, Rabu, 28 Agustus 2013 |
Label:
hikmah
Rabu, 07 Agustus 2013
Adab di Hari Raya Idul Fitri
Umat Islam di berbagai tempat, daerah, dan negara memiliki tradisi masing-masing dalam menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri. Intinya, pada saat hari raya, setiap keluarga bisa berkumpul, saling mengunjungi, dan bersilaturahim, serta saling memaafkan.
Nah, agar perayaan Idul Fitri 1432 H benar-benar bermakna, sebaiknya setiap Muslim meniru teladan dan perintah Rasulullah SAW dalam mengisi hari nan fitri ini. Dalam Kitab Mausuu'atul Aadaab Al-Islaamiyyah, Syekh Abdul Azis bin Fathi As-Sayyid Nada menjelaskan adab berhari raya ala Rasulullah SAW. Berikut ini adab berhari raya.
Pertama, niat yang benar.
Menurut Syekh Sayyid Nada, wajib bagi seorang Muslim menghadirkan niat yang benar dalam segala perkara berkaitan dengan hari raya, seperti berniat ketika keluar rumah untuk shalat demi mengikuti Nabi SAW.
Kedua, mandi.
Pada hari Idul Fitri hendaknya setiap Muslim mandi. Sehingga, dapat berkumpul bersama kaum Muslimin lainnya dalam keadaan bersih dan wangi. Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, bahwa ia mandi pada hari raya Idul Fitri, sebelum berangkat ke tempat shalat. (HR Malik dalam kitab al-Muwaththa).
Ketiga, memakai wewangian.
Saat akan shalat Idul Fitri, hendaknya setiap Muslim memakai wewangian dan dalam keadaan bersih.
Keempat, memakai pakaian baru.
Jika seorang mampu, disunahkan memakai pakaian baru pada hari raya Idul Fitri. Hal itu menunjukkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT dan menunjukkan kegembiraan pada hari raya. Ibnu Umar RA memakai pakaian terbaiknya pada kedua hari raya. (HR al-Baihaki).
Kelima, mengeluarkan zakat fitrah sebelum melaksanakan shalat.
Sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW, seorang Muslim hendaknya mengeluarkan zakat fitrah sebelum shalat untuk menggembirakan fakir-miskin dan orang yang membutuhkan pada hari Id tersebut. Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk mengeluarkan zakat fitrah sebelum orang-orang keluar untuk shalat. (HR Bukhari-Muslim).
Keenam, memakan kurma sebelum berangkat dari rumah pada hari raya Idul Fitri.
Dalam sebuah hadis disebutkan, Rasulullah SAW sebelum berangkat shalat pada hari raya Idul Fitri memakan kurma terlebih dahulu. Dalam riwayat lain disebutkan, Nabi SAW tak berangkat shalat Idul Fitri kecuali setelah makan, sedangkan beliau tidak makan pada hari raya Idul Adha, kecuali setelah pulang dan makan dari hewan kurbannya. (HR at-Tirmidzi)
Ketujuh, bersegera menuju tempat shalat.
Pada hari raya Idul Fitri, hendaknya setiap Muslim bergegas menuju tempat dilakukannya shalat Id.
Kedelapan, keluarnya wanita ke tempat shalat.
Kaum wanita dianjurkan untuk keluar menuju tempat shalat walaupun sedang haid. Sehingga, mereka dapat menyaksikan dan mendapat kemuliaan hari raya serta merasakan kebahagiaan bersama orang lain.
Kesembilan, anak-anak juga keluar untuk shalat.
Ibnu Abbas RA berkata, ''Aku keluar bersama Nabi SAW pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, kemudian beliau shalat dan berkhutbah .…'' (HR Bukhari-Muslim).
Kesepuluh, keluar untuk shalat dengan berjalan kaki.
Keluar berjalan kaki untuk shalat termasuk sunah. Sebagaimana Nabi SAW keluar pada dua hari raya dengan berjalan kaki, shalat tanpa azan dan iqamat, dan pulang berjalan kaki melalui jalan lain. (HR Ibnu Majah). Perbuatan inilah yang disukai selama tak memberatkan orang yang shalat.
Kesebelas, bertakbir dengan suara keras sampai ke tempat shalat.
Disunahkan bertakbir mulai dari keluar rumah sampai ke tempat shalat. Hal ini untuk menunjukkan syiar Islam.
Kedua belas, bersalaman dan saling mengucapkan selamat di antara orang yang shalat.
Bersalaman dan saling mengucapkan selamat akan membahagiakan jiwa yang merasa gembira pada hari Id. Bisa pula sambil mengucapkan, ''Semoga allah menerima amal kami dan amal kalian.''
Ketiga belas, bersilaturahim.
Keempat belas, saling bertukar hadiah dan makanan.
Sudah menjadi tradisi, pada hari raya setaip tetangga bertukar makanan dan hidangan. Bahkan, dianjurkan untuk memberikan hadiah bagi mereka yang tak mampu.
Pertama, niat yang benar.
Menurut Syekh Sayyid Nada, wajib bagi seorang Muslim menghadirkan niat yang benar dalam segala perkara berkaitan dengan hari raya, seperti berniat ketika keluar rumah untuk shalat demi mengikuti Nabi SAW.
Kedua, mandi.
Pada hari Idul Fitri hendaknya setiap Muslim mandi. Sehingga, dapat berkumpul bersama kaum Muslimin lainnya dalam keadaan bersih dan wangi. Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, bahwa ia mandi pada hari raya Idul Fitri, sebelum berangkat ke tempat shalat. (HR Malik dalam kitab al-Muwaththa).
Ketiga, memakai wewangian.
Saat akan shalat Idul Fitri, hendaknya setiap Muslim memakai wewangian dan dalam keadaan bersih.
Keempat, memakai pakaian baru.
Jika seorang mampu, disunahkan memakai pakaian baru pada hari raya Idul Fitri. Hal itu menunjukkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT dan menunjukkan kegembiraan pada hari raya. Ibnu Umar RA memakai pakaian terbaiknya pada kedua hari raya. (HR al-Baihaki).
Kelima, mengeluarkan zakat fitrah sebelum melaksanakan shalat.
Sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW, seorang Muslim hendaknya mengeluarkan zakat fitrah sebelum shalat untuk menggembirakan fakir-miskin dan orang yang membutuhkan pada hari Id tersebut. Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk mengeluarkan zakat fitrah sebelum orang-orang keluar untuk shalat. (HR Bukhari-Muslim).
Keenam, memakan kurma sebelum berangkat dari rumah pada hari raya Idul Fitri.
Dalam sebuah hadis disebutkan, Rasulullah SAW sebelum berangkat shalat pada hari raya Idul Fitri memakan kurma terlebih dahulu. Dalam riwayat lain disebutkan, Nabi SAW tak berangkat shalat Idul Fitri kecuali setelah makan, sedangkan beliau tidak makan pada hari raya Idul Adha, kecuali setelah pulang dan makan dari hewan kurbannya. (HR at-Tirmidzi)
Ketujuh, bersegera menuju tempat shalat.
Pada hari raya Idul Fitri, hendaknya setiap Muslim bergegas menuju tempat dilakukannya shalat Id.
Kedelapan, keluarnya wanita ke tempat shalat.
Kaum wanita dianjurkan untuk keluar menuju tempat shalat walaupun sedang haid. Sehingga, mereka dapat menyaksikan dan mendapat kemuliaan hari raya serta merasakan kebahagiaan bersama orang lain.
Kesembilan, anak-anak juga keluar untuk shalat.
Ibnu Abbas RA berkata, ''Aku keluar bersama Nabi SAW pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, kemudian beliau shalat dan berkhutbah .…'' (HR Bukhari-Muslim).
Kesepuluh, keluar untuk shalat dengan berjalan kaki.
Keluar berjalan kaki untuk shalat termasuk sunah. Sebagaimana Nabi SAW keluar pada dua hari raya dengan berjalan kaki, shalat tanpa azan dan iqamat, dan pulang berjalan kaki melalui jalan lain. (HR Ibnu Majah). Perbuatan inilah yang disukai selama tak memberatkan orang yang shalat.
Kesebelas, bertakbir dengan suara keras sampai ke tempat shalat.
Disunahkan bertakbir mulai dari keluar rumah sampai ke tempat shalat. Hal ini untuk menunjukkan syiar Islam.
Kedua belas, bersalaman dan saling mengucapkan selamat di antara orang yang shalat.
Bersalaman dan saling mengucapkan selamat akan membahagiakan jiwa yang merasa gembira pada hari Id. Bisa pula sambil mengucapkan, ''Semoga allah menerima amal kami dan amal kalian.''
Ketiga belas, bersilaturahim.
Keempat belas, saling bertukar hadiah dan makanan.
Sudah menjadi tradisi, pada hari raya setaip tetangga bertukar makanan dan hidangan. Bahkan, dianjurkan untuk memberikan hadiah bagi mereka yang tak mampu.
Sumber, Republika Online, Rabu, 07 Agustus 2013
Label:
hikmah
Senin, 03 Juni 2013
Terry Holdbrooks, Kisah Penjaga Guantanamo yang Memeluk Islam
Saat mengenal Islam, ia merasakan sebuah keteduhan.
Di malam hari, ketika penjaga lain bermabuk-mabukan, Terry Holdbrooks justru berbincang dengan seorang narapidana (napi). Bukan interogasi, Terry bercakap tentang Islam.
Hanya dalam hitungan bulan, militer AS ini pun bersyahadat. Suaranya menggema penjuru penjara tempatnya bertugas, penjara khusus milik AS di Teluk Guantanamo, tempat para “teroris” ditahan.
“Kami tak tahu apa pun tentang Islam. Kami hanya diperlihatkan video peristiwa 11 September (bom gedung WTC, New York, AS). Kita diberitahu bahwa para tahanan ini merupakan yang paling buruk dari yang terburuk. Mereka adalah sopir (Osama) Bin Laden, koki Bin Laden, dan orang-orang yang akan membunuh Anda saat pertama kali bertemu,” ujar Terry berkisah tentang perjalanannya menuju hidayah kepada banyak media, baik Guardian, NewsWeek Magz, France TV, dan lain sebagainya.
Namun, persepsi sempit tentang Islam itu ternyata tak semuanya benar. Terry mendapati beberapa tahanan yang justru amat baik. Mereka sangat ramah dan murah senyum.
Semakin lama, Terry yang juga dikenal sebagai penjaga baik hati itu pun berhubungan baik dengan para napi. Setiap malam dia duduk-duduk dengan para napi. Berawal obrolan biasa, kemudian mengarah pada agama. Inilah kali pertama Terry mengenal Islam.
“Aku mulai ngobrol dengan para tahanan tentang politik, etika, moral, juga tentang kehidupan dan budaya mereka. Ini benar-benar mengejutkan bagiku karena sebelumnya aku sama sekali tak mengenal Islam,” ujarnya.
Sumber : Republika online, Senin, 03 Juni 2013
Di malam hari, ketika penjaga lain bermabuk-mabukan, Terry Holdbrooks justru berbincang dengan seorang narapidana (napi). Bukan interogasi, Terry bercakap tentang Islam.
Hanya dalam hitungan bulan, militer AS ini pun bersyahadat. Suaranya menggema penjuru penjara tempatnya bertugas, penjara khusus milik AS di Teluk Guantanamo, tempat para “teroris” ditahan.
“Kami tak tahu apa pun tentang Islam. Kami hanya diperlihatkan video peristiwa 11 September (bom gedung WTC, New York, AS). Kita diberitahu bahwa para tahanan ini merupakan yang paling buruk dari yang terburuk. Mereka adalah sopir (Osama) Bin Laden, koki Bin Laden, dan orang-orang yang akan membunuh Anda saat pertama kali bertemu,” ujar Terry berkisah tentang perjalanannya menuju hidayah kepada banyak media, baik Guardian, NewsWeek Magz, France TV, dan lain sebagainya.
Namun, persepsi sempit tentang Islam itu ternyata tak semuanya benar. Terry mendapati beberapa tahanan yang justru amat baik. Mereka sangat ramah dan murah senyum.
Semakin lama, Terry yang juga dikenal sebagai penjaga baik hati itu pun berhubungan baik dengan para napi. Setiap malam dia duduk-duduk dengan para napi. Berawal obrolan biasa, kemudian mengarah pada agama. Inilah kali pertama Terry mengenal Islam.
“Aku mulai ngobrol dengan para tahanan tentang politik, etika, moral, juga tentang kehidupan dan budaya mereka. Ini benar-benar mengejutkan bagiku karena sebelumnya aku sama sekali tak mengenal Islam,” ujarnya.
Sumber : Republika online, Senin, 03 Juni 2013
Label:
hikmah
Rabu, 15 Mei 2013
Jasmine Crawford: Islam Agama Paling Logis

Warga New York AS ini mengungkapkan kekesalannya pada Muslimin yang justru mencoreng nama baik Islam. Namun, hidayah tak akan salah jalan. Jika Allah menghendaki memberikan hidayah kepada seseorang maka tak ada yang mampu menghalanginya. Meski Jasmine mengenal Islam dengan imej yang buruk, ia justru mempelajarinya kemudian mendapatkan manisnya hidayah.
Ditayangkan dalam program “They Chose Islam” The Algerian TV, Jasmine mengisahkan perjalanannya menuju hidayah tersebut. Dengan imej Islam yang buruk di kalangan warga AS, Jasmine pun berkesimpulan Islam hanyalah gaya hidup semata, bukan agama. Ia pun amat tak tertarik dengan agama akhir zaman ini. Hingga kemudian, Jasmine memiliki teman Muslim.
Dari situlah, pandangan Jasmine mulai berubah. Tak hanya satu, ia pun kemudian bergaul dengan lebih banyak Muslim untuk lebih mengenal Islam. “Begitulah saya mengenal Islam karena saya memiliki beberapa teman Muslim,” ujarnya tersenyum.
Maka, dimulailah pencarian hidayah itu. Jasmine yang merupakan seorang Katholik taat mulai mempelajari berbagai agama. Tak hanya Islam, ia juga mempelajari Kristen dan Yahudi. Namun, di ujung pencariannya, ia memilih menjadi seorang Muslimah.
“Saya mempelajari berbagai agama. Awalnya saya bermaksud sekadar belajar. Tapi, semakin banyak saya belajar, semakin saya tertarik pada Islam. Saya kemudian memilih Islam karena saya percaya ini adalah ajaran yang benar. Saya memohon kepada Allah agar membimbing saya dan memberi saya petunjuk,” ujarnya dengan mata berbinar.
Namun, Jasmine tentu tidak begitu saja menerima Islam. Dia juga tidak begitu saja mempercayai Islam. Terdapat hal yang menarik bagi Jasmine hingga ia memutuskan menjadi mualaf. Hal menarik tersebut yakni kelogisan Islam yang dapat terlihat dari kemurnian Alquran.
“Alquran yang tidak pernah berubah menjadi satu hal yang sangat penting bagi saya. Banyak bukti-bukti sains yang disebutkan di dalamnya dan semuanya dapat diterima akal. Islamlah agama yang paling logis,” tuturnya.
Jasmine pun kemudian bersyahadat pada 2010 lalu. Terdapat kalimat yang sangat ia sukai, yakni kalimat “Lailahaila Allah”, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Menurutnya, kalimat tersebut membuatnya terasa langsung berhubungan dengan Allah. Ia merasa sangat dekat dengan-Nya dan itu membuatnya bahagia. “Hal itu benar-benar membuat saya merasa bahwa Allah benar adanya,” kata Jasmine.
Setelah memeluk Islam, Jasmine pun tak merasakan adanya hambatan yang biasa menguji para mualaf. Keluarganya menerima bahkan mendukungnya menjadi seorang Muslim.
“Alhamdulillah, hubungan saya dengan orang tua sangat baik. Saya sangat mencintai mereka. Saat baru mempelajari Islam, ayah jatuh sakit karena kanker. Ayah meninggal pada Juli 2011 lalu. Ibu saya pun seorang yang sangat baik dan terbaik. Alhamdulillah, dia membantu saya dalam banyak hal. Dia membangunkan saya untuk shalat Subuh, membelikan makanan halal untuk saya. Ibu benar-benar seorang wanita yang sangat baik dan cantik. Saya sangat dekat dengannya. Hubungan kami sangat baik. Ibu saya pernah berkata, “Sendainya Islam membuatmu bahagia, dan kamu tidak menganggu orang lain, maka lakukanlah. Lakukanlah apa yang membuatmu bahagia,” tutur Jasmine bersyukur.
Selain itu, Jasmine pun tak merasa berat mengenakan jilbab di tengah-tengah masyarakat New York yang berpandangan negatif terhadap Islam. Menurutnya, jika memiliki keyakinan dan percaya diri maka hal yang sangat mudah bagi Muslim untuk hidup di New York meski sebagai minoritas. Baginya, sangat mudah hidup sebagai Muslim di New York. Ia dapat berjilbab bebas dan dapat mudah mendapatkan makanan halal.
“Jika kalian melihat apa yang dipakai orang saat ini, mereka mengenakan segala macam pakaian sehingga sebagian orang tak akan sadar jika Anda seorang Muslim. Memang banyak orang yang bertanya tentang keislaman saya, tapi saya melihat mereka sebenarnya sangat baik terhadap saya. Mereka tidak seburuk seperti yang saya pikirkan. Di New York, sangat mudah mencari apa yang kalian inginkan. Saya bisa memastikan di kota-kota lain tak semudah di New York. Saya merasakan amat senang menjadi seorang Muslim di Kota New York,” ujarnya.
Aktif Berorganisasi
“Alhamdulillah, hubungan saya dengan orang tua sangat baik. Saya sangat mencintai mereka. Saat baru mempelajari Islam, ayah jatuh sakit karena kanker. Ayah meninggal pada Juli 2011 lalu. Ibu saya pun seorang yang sangat baik dan terbaik. Alhamdulillah, dia membantu saya dalam banyak hal. Dia membangunkan saya untuk shalat Subuh, membelikan makanan halal untuk saya. Ibu benar-benar seorang wanita yang sangat baik dan cantik. Saya sangat dekat dengannya. Hubungan kami sangat baik. Ibu saya pernah berkata, “Sendainya Islam membuatmu bahagia, dan kamu tidak menganggu orang lain, maka lakukanlah. Lakukanlah apa yang membuatmu bahagia,” tutur Jasmine bersyukur.
Selain itu, Jasmine pun tak merasa berat mengenakan jilbab di tengah-tengah masyarakat New York yang berpandangan negatif terhadap Islam. Menurutnya, jika memiliki keyakinan dan percaya diri maka hal yang sangat mudah bagi Muslim untuk hidup di New York meski sebagai minoritas. Baginya, sangat mudah hidup sebagai Muslim di New York. Ia dapat berjilbab bebas dan dapat mudah mendapatkan makanan halal.
“Jika kalian melihat apa yang dipakai orang saat ini, mereka mengenakan segala macam pakaian sehingga sebagian orang tak akan sadar jika Anda seorang Muslim. Memang banyak orang yang bertanya tentang keislaman saya, tapi saya melihat mereka sebenarnya sangat baik terhadap saya. Mereka tidak seburuk seperti yang saya pikirkan. Di New York, sangat mudah mencari apa yang kalian inginkan. Saya bisa memastikan di kota-kota lain tak semudah di New York. Saya merasakan amat senang menjadi seorang Muslim di Kota New York,” ujarnya.
Aktif Berorganisasi
Setelah memeluk Islam, Jasmine pun berkecimpung dalam sebuah organisasi Islam nonprofit, Muslim Education and Converts Center of America (MECCA). Ia sangat aktif dalam organisasi tersebut, belajar dan memberikan pelajaran, serta berbagi pengalaman dengan para mualaf baru. Ia pun merasakan menemukan keluarga baru di organisasi tersebut.
“Seperti berada dalam sebuah keluarga dan kita semua dalam kondisi yang sama, sebagai mualaf. Organisasi ini menjadi tempat yang besar, alhamdulillah. Mereka yang baru memeluk Islam datang ke sini dari berbagai tempat. Saya yang merupakan campuran warga kulit hitam dan putih bertemu dengan mualaf dari Irish, Afrika, dan India. Kami juga punya anggota orang Cina. Ada pula yang dari Spanyol, yang berkulit putih. Pokoknya kami punya berbagai ragam ras dan bangsa,” tutur Jasmine dengan senyum tersungging di wajahnya.
Di MECCA, Jasmine ikut andil dalam berbagai kegiatan seperti kelas shalat untuk mulaf, kursus bahasa Arab, serta kelas akidah dan fikih. Jasmine juga ikut mendakwahkan Islam dengan benar serta mengundang para Muslimin untuk menjalin silaturahim. Jasmine berbagi kebahagian sebagai seorang Muslim kepada para mualaf baru.
“Seperti berada dalam sebuah keluarga dan kita semua dalam kondisi yang sama, sebagai mualaf. Organisasi ini menjadi tempat yang besar, alhamdulillah. Mereka yang baru memeluk Islam datang ke sini dari berbagai tempat. Saya yang merupakan campuran warga kulit hitam dan putih bertemu dengan mualaf dari Irish, Afrika, dan India. Kami juga punya anggota orang Cina. Ada pula yang dari Spanyol, yang berkulit putih. Pokoknya kami punya berbagai ragam ras dan bangsa,” tutur Jasmine dengan senyum tersungging di wajahnya.
Di MECCA, Jasmine ikut andil dalam berbagai kegiatan seperti kelas shalat untuk mulaf, kursus bahasa Arab, serta kelas akidah dan fikih. Jasmine juga ikut mendakwahkan Islam dengan benar serta mengundang para Muslimin untuk menjalin silaturahim. Jasmine berbagi kebahagian sebagai seorang Muslim kepada para mualaf baru.
Sumber : Republika Online,Kamis, 16 Mei 2013
Label:
hikmah
Senin, 14 Januari 2013
Manajemen Emosi
Oleh: Muhbib Abdul Wahab
Dalam sebuah peperangan, Ali bin Abi Thalib- Karramallahu wajhah - terlibat duel dengan salah satu jawara kaum musyrik. Ia berhasil menjatuhkan lawannya.
Ketika Ali hendak membunuhnya, sang musuh meludahi Ali dan mengenai wajahnya. Atas hal itu, Ali mengurungkan niatnya dan berlalu meninggalkannya.
Orang musyrik itu pun memandang aneh sikap Ali. “Hendak ke manakah engkau?” ujarnya.
Ali menjawab, “Mulanya, aku berperang karena Allah, namun ketika engkau melakukan apa yang telah engkau lakukan terhadapku (meludahiku), aku khawatir membunuhmu hanya sebagai balas dendam dan pelampiasan kemarahanku. Jadi, aku membebaskanmu karena Allah.”
Orang itu pun berkata, “Semestinya kelakuanku lebih memancing kemarahanmu hingga engkau segera membunuhku. Jika agama yang kalian anut sangat toleran, maka sudah pasti ia adalah agama yang benar.”
Sekelumit kisah tersebut menunjukkan setidaknya empat nilai akhlak mulia. Pertama, menjaga ketulusan niat dan komitmen. Niat suci untuk berjihad karena Allah SWT yang sudah dibulatkan dalam hati yang bersih tidak boleh dinodai oleh niat lain yang dapat menggugurkan kesucian niat awal.
Jika kesucian niat sudah terkontaminasi oleh hal-hal yang tidak mulia, niscaya dapat merusak amal kebaikan dan menjadikannya tidak bermakna, sia-sia di mata Allah SWT. (HR Bukhari dan Muslim).
Kedua, menahan diri untuk tidak terprovokasi dan melakukan balas dendam merupakan akhlak yang sangat terpuji, terutama dalam suasana permusuhan dan peperangan. Manusia seringkali tidak bisa mengendalikan diri (emosi) jika dimusuhi.
Dalam hal ini, Ali justru tidak sudi membunuh musuh yang terang-terangan telah meludahinya, meskipun beliau dapat melakukannya terhadap musuh yang sudah tidak berdaya.
“Orang yang kuat bukanlah karena kehebatan kekuatannya, akan tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya di saat marah.” (Muttafaq 'alaih).
Ketiga, mengelola kemarahan dengan tidak mendendam merupakan energi positif untuk memberi ruang bagi munculnya sikap arif dan mau memaafkan orang lain. Memberi maaf jauh lebih baik daripada melampiaskan balas dendam.
Alquran mengajarkan kepada kita untuk membela diri jika diperlakukan secara zalim. Namun, memberi maaf lalu berdamai itu pasti lebih indah dan damai. (QS as-Syura [42]: 39-40).
Keempat, sikap lapang dada dan besar hati untuk hidup damai merupakan kata kunci toleransi dan kerukunan hidup. Kemarahan pada dasarnya wajar (manusiawi), tetapi membiarkan kemarahan tanpa kendali adalah awal dari sikap dan perilaku disharmoni.
Karena itu, ketika ada seorang sahabat menemuni Nabi dan meminta nasihat kepadanya, beliau menyatakan, “Jangan marah! (beliau mengulanginya sampai tiga kali).” (HR Muslim).
Manajemen emosi dan kemarahan dapat diterapi dengan berwudhu, karena marah itu ibarat bara api yang bergejolak dan hanya dapat padam jika disiram dengan air.
Manajemen emosi bisa berfungsi lebih efektif dan optimal jika dibarengi dengan zikrullah (mengingat Allah), beristighfar kepada-Nya, mengingat kematian, berbaik sangka, berpikir positif, dan bersabar. Wallahu a'lam.
Sumber : Republika Online, Rabu, 09 Januari 2013,
Dalam sebuah peperangan, Ali bin Abi Thalib- Karramallahu wajhah - terlibat duel dengan salah satu jawara kaum musyrik. Ia berhasil menjatuhkan lawannya.
Ketika Ali hendak membunuhnya, sang musuh meludahi Ali dan mengenai wajahnya. Atas hal itu, Ali mengurungkan niatnya dan berlalu meninggalkannya.
Orang musyrik itu pun memandang aneh sikap Ali. “Hendak ke manakah engkau?” ujarnya.
Ali menjawab, “Mulanya, aku berperang karena Allah, namun ketika engkau melakukan apa yang telah engkau lakukan terhadapku (meludahiku), aku khawatir membunuhmu hanya sebagai balas dendam dan pelampiasan kemarahanku. Jadi, aku membebaskanmu karena Allah.”
Orang itu pun berkata, “Semestinya kelakuanku lebih memancing kemarahanmu hingga engkau segera membunuhku. Jika agama yang kalian anut sangat toleran, maka sudah pasti ia adalah agama yang benar.”
Sekelumit kisah tersebut menunjukkan setidaknya empat nilai akhlak mulia. Pertama, menjaga ketulusan niat dan komitmen. Niat suci untuk berjihad karena Allah SWT yang sudah dibulatkan dalam hati yang bersih tidak boleh dinodai oleh niat lain yang dapat menggugurkan kesucian niat awal.
Jika kesucian niat sudah terkontaminasi oleh hal-hal yang tidak mulia, niscaya dapat merusak amal kebaikan dan menjadikannya tidak bermakna, sia-sia di mata Allah SWT. (HR Bukhari dan Muslim).
Kedua, menahan diri untuk tidak terprovokasi dan melakukan balas dendam merupakan akhlak yang sangat terpuji, terutama dalam suasana permusuhan dan peperangan. Manusia seringkali tidak bisa mengendalikan diri (emosi) jika dimusuhi.
Dalam hal ini, Ali justru tidak sudi membunuh musuh yang terang-terangan telah meludahinya, meskipun beliau dapat melakukannya terhadap musuh yang sudah tidak berdaya.
“Orang yang kuat bukanlah karena kehebatan kekuatannya, akan tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya di saat marah.” (Muttafaq 'alaih).
Ketiga, mengelola kemarahan dengan tidak mendendam merupakan energi positif untuk memberi ruang bagi munculnya sikap arif dan mau memaafkan orang lain. Memberi maaf jauh lebih baik daripada melampiaskan balas dendam.
Alquran mengajarkan kepada kita untuk membela diri jika diperlakukan secara zalim. Namun, memberi maaf lalu berdamai itu pasti lebih indah dan damai. (QS as-Syura [42]: 39-40).
Keempat, sikap lapang dada dan besar hati untuk hidup damai merupakan kata kunci toleransi dan kerukunan hidup. Kemarahan pada dasarnya wajar (manusiawi), tetapi membiarkan kemarahan tanpa kendali adalah awal dari sikap dan perilaku disharmoni.
Karena itu, ketika ada seorang sahabat menemuni Nabi dan meminta nasihat kepadanya, beliau menyatakan, “Jangan marah! (beliau mengulanginya sampai tiga kali).” (HR Muslim).
Manajemen emosi dan kemarahan dapat diterapi dengan berwudhu, karena marah itu ibarat bara api yang bergejolak dan hanya dapat padam jika disiram dengan air.
Manajemen emosi bisa berfungsi lebih efektif dan optimal jika dibarengi dengan zikrullah (mengingat Allah), beristighfar kepada-Nya, mengingat kematian, berbaik sangka, berpikir positif, dan bersabar. Wallahu a'lam.
Sumber : Republika Online, Rabu, 09 Januari 2013,
Label:
hikmah
Tiga Misi Risalah Kenabian
Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA
Rasulullah SAW menjalankan misi kenabian selama 23 tahun, 10 tahun di Makkah dan 13 tahun di Madinah.
Misi tersebut dijalankan Rasulullah dengan sukses disertai rida Allah SWT, sehingga pada penutup wahyu-Nya, Allah SWT berfirman: "Pada hari ini Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu." (QS. Al-Maidah: 3).
Dr Muhammad Basam Al-Zein Dalam karyanya "Muhammad Rasulullah" membagi misi kenabian Muhammad SAW dalam tiga bagian.
Pertama, pembacaan ayat-ayat Alquran. Pembacaan di sini berarti bahwa Allah SWT mengajarkan pembacaan dan makna Alquran kepada Muhammad melalui Jibril AS lengkap dengan pengucapan makhraj huruf, tajwid, urutan dan sistem aturan di dalamnya (QS. Ar-Rahman: 1-2).
Kemudian pengajaran di sini juga berarti bahwa Rasulullah SAW lalu mengajarkan Alquran kepada para sahabatnya, para sahabat mengajarkan kepada para tabiin, para tabiin mengajarkan kepada tabiit-tabiin, dan begitu seterusnya hingga pada generasi Alquran terakhir hari kiamat nanti.
Allah SWT berfirman, "Dan Alquran (Kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap." (QS. Al-Isra': 106).
Kedua, penyucian jiwa. Rasulullah SAW telah melakukan penyucian jiwa orang-orang terdekat dan para sahabatnya dengan cara menanamkan dan menumbuhkan keimanan di dalam hati mereka; mengalahkan hawa nafsu mereka; mendidiknya agar sesuai dengan petunjuk Alquran; konsisten dalam keimanan dan takwa; serta berlaku ihsan dalam setiap perbuatan, sehingga ciri khas keberhasilan dari proses penyucian jiwa tersebut adalah menemukan manisnya keimanan.
Rasulullah SAW bersabda, "Tiga perkara yang jika terdapat pada diri seseorang maka ia akan mendapatkan manisnya keimanan: Pertama, Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selain keduanya; Kedua, cinta seseorang semata-mata karena Allah; Ketiga, benci kembali dalam kekufuran sebagaimana benci dilemparkan ke neraka." (HR. Bukhari).
Ketiga, pengajaran Alquran, as-sunnah dan al-hikmah. Rasulullah SAW telah mengajarkan ketiga ilmu tersebut kepada para sahabat dan mereka mengajarkan kepada generasi ke generasi hingga saat ini bahkan sampai hari kiamat nanti.
Pengajaran ketiga ilmu tersebut merupakan warisan Rasulullah SAW sebagaimana komentar Abu Hurairah RA pada saat melihat sebagian kaum shalat di masjid, sebagian yang lain membaca Alquran, sebagian lagi belajar halal-haram, lalu Abu Hurairah berkata, "Semua itu adalah warisan Muhammad SAW." (HR. Tabrani dengan sanad hasan).
Ketiga misi kenabian tersebut tidak lain merupakan pengabulan Allah SWT atas doa Nabi Ibrahim AS. Allah SWT berfirman: "Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Alquran), dan hikmah (sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Ali-Imran: 164). Wallahu a'lam.
Sumber : Republika online, Sabtu, 12 Januari 2013,
Rasulullah SAW menjalankan misi kenabian selama 23 tahun, 10 tahun di Makkah dan 13 tahun di Madinah.
Misi tersebut dijalankan Rasulullah dengan sukses disertai rida Allah SWT, sehingga pada penutup wahyu-Nya, Allah SWT berfirman: "Pada hari ini Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu." (QS. Al-Maidah: 3).
Dr Muhammad Basam Al-Zein Dalam karyanya "Muhammad Rasulullah" membagi misi kenabian Muhammad SAW dalam tiga bagian.
Pertama, pembacaan ayat-ayat Alquran. Pembacaan di sini berarti bahwa Allah SWT mengajarkan pembacaan dan makna Alquran kepada Muhammad melalui Jibril AS lengkap dengan pengucapan makhraj huruf, tajwid, urutan dan sistem aturan di dalamnya (QS. Ar-Rahman: 1-2).
Kemudian pengajaran di sini juga berarti bahwa Rasulullah SAW lalu mengajarkan Alquran kepada para sahabatnya, para sahabat mengajarkan kepada para tabiin, para tabiin mengajarkan kepada tabiit-tabiin, dan begitu seterusnya hingga pada generasi Alquran terakhir hari kiamat nanti.
Allah SWT berfirman, "Dan Alquran (Kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap." (QS. Al-Isra': 106).
Kedua, penyucian jiwa. Rasulullah SAW telah melakukan penyucian jiwa orang-orang terdekat dan para sahabatnya dengan cara menanamkan dan menumbuhkan keimanan di dalam hati mereka; mengalahkan hawa nafsu mereka; mendidiknya agar sesuai dengan petunjuk Alquran; konsisten dalam keimanan dan takwa; serta berlaku ihsan dalam setiap perbuatan, sehingga ciri khas keberhasilan dari proses penyucian jiwa tersebut adalah menemukan manisnya keimanan.
Rasulullah SAW bersabda, "Tiga perkara yang jika terdapat pada diri seseorang maka ia akan mendapatkan manisnya keimanan: Pertama, Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selain keduanya; Kedua, cinta seseorang semata-mata karena Allah; Ketiga, benci kembali dalam kekufuran sebagaimana benci dilemparkan ke neraka." (HR. Bukhari).
Ketiga, pengajaran Alquran, as-sunnah dan al-hikmah. Rasulullah SAW telah mengajarkan ketiga ilmu tersebut kepada para sahabat dan mereka mengajarkan kepada generasi ke generasi hingga saat ini bahkan sampai hari kiamat nanti.
Pengajaran ketiga ilmu tersebut merupakan warisan Rasulullah SAW sebagaimana komentar Abu Hurairah RA pada saat melihat sebagian kaum shalat di masjid, sebagian yang lain membaca Alquran, sebagian lagi belajar halal-haram, lalu Abu Hurairah berkata, "Semua itu adalah warisan Muhammad SAW." (HR. Tabrani dengan sanad hasan).
Ketiga misi kenabian tersebut tidak lain merupakan pengabulan Allah SWT atas doa Nabi Ibrahim AS. Allah SWT berfirman: "Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Alquran), dan hikmah (sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Ali-Imran: 164). Wallahu a'lam.
Sumber : Republika online, Sabtu, 12 Januari 2013,
Label:
hikmah
Jumat, 26 Oktober 2012
Menyingkap Rahasia Ikhlas
Oleh : Ust. Arifin Ilham"Tuan guru, ceritakanlah kepada kami sebuah hadis yang tuan dengar langsung dari baginda Rasulullah SAW," kata salah seorang pemuka Syam kepada Abu Hurairah RA.
"Sesungguhnya manusia yang pertama kali akan diadili—pada pengadilan akhirat nanti—adalah seseorang yang mati dalam peperangan (mati syahid)," jawab Abu Hurairah mengutip hadis Rasulullah SAW.
Abu Hurairah berkata, "Dihadapkanlah orang tersebut kepada Allah SWT, lalu disodorkan amalannya dan Allah pun Mahamengetahuinya.” Kemudian, Allah SWT bertanya, “Apa saja yang kamu kerjakan ketika di dunia?” Orang tersebut menjawab, “Saya berperang di jalan-Mu ya Allah, sampai-sampai saya mati terbunuh.”
Allah berfirman, “Kamu bohong, yang benar kamu berperang supaya kamu dapat dikatakan sebagai 'pahlawan' dan mereka telah menyebutmu demikian.” Lalu, Allah memerintahkan malaikat untuk menyingkirkan orang tersebut dari hadapan-Nya dan melemparnya ke dalam neraka.
Ada juga seseorang yang belajar Alquran dan mengajarkannya kepada orang lain. Lalu, dihadapkanlah orang tersebut kepada Allah SWT. Diajukanlah amal orang tersebut kepada-Nya dan Dia-pun Mahamengetahui. Kemudian, Allah SWT bertanya, "Apa yang kamu kerjakan waktu di dunia?" Orang itu menjawab, "Saya belajar Alquran dan telah pula mengajarkannya."
"Kamu bohong, kamu belajar Alquran supaya dikatakan sebagai orang pandai, ulama, atau intelektual. Engkau membaca Alquran supaya dikatakan sebagai orang yang mampu membaca Alquran dengan baik, dan itu semua sudah dikatakan oleh mereka." Lalu, Allah memerintahkan malaikat untuk menyingkirkan orang tersebut dari hadapan-Nya serta melemparkannya ke dalam neraka.
Setelah itu, ada seseorang yang diberi keluasan harta oleh Allah SWT, lalu dihadapkanlah orang tersebut. Diajukanlah amal orang tersebut kepada-Nya dan Allah pun Maha Mengetahui. Allah SWT bertanya, "Apa yang kamu kerjakan ketika di dunia?" Orang tersebut menjawab, "Saya telah infakkan harta yang saya miliki demi Engkau, ya Allah."
Allah berfirman, "Kamu bohong, kamu melakukan semua itu supaya kamu dikatakan orang yang dermawan, dan itu sudah dikatakan oleh mereka." Lalu, Allah SWT memerintahkan kepada malaikat untuk menyingkirkan orang tersebut dari hadapan-Nya serta melemparkannya ke dalam neraka," pungkas Abu Hurairah sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahih Muslim.
Allahu Akbar. Rahasia ikhlas ternyata benar-benar tak seorang pun yang tahu. Hanya Allah yang benar-benar mengetahuinya, "Sirrun min asrariy, rahasia di antara rahasia-Ku," kata sebuah hadis Qudsi.
Banyak ulama yang menyebut beberapa di antara tanda ikhlas. Pertama, istiqamah, terus-menerus dalam ibadah, baik ada maupun tidak ada orang, dipuji atau dihina. Kedua, tidak ‘geer’ karena pujian dan tidak sakit hati karena hinaan.
Ketiga, pantang berkeluh kesah karena semuanya diputuskan Allah dengan rahmat, ilmu, dan kebijakan-Nya sehingga tampaklah pada wajahnya yang selalu tersenyum. Keempat, baik sangka dengan selalu memuji Allah atas segala peristiwa dan kejadian-Nya. Kelima, qanaah, puas bukan hanya dengan nikmat Allah, melainkan atas segala keputusan Allah.
Berikutnya at-tawadhu' (rendah hati), lalu asy-syahiyyu (ringan tangan) untuk memberi. Selanjutnya, bersemangat hanya pada yang halal karena orientasi hidupnya akhirat, memaafkan dengan mendoakan yang menyakiti, kalaupun dipuji ia balas dengan doa.
Hobi dan kesibukannya adalah bermuhasabah diri dan tidak tertarik mencari aib orang lain, lalu lisannya terus berzikir, beristighfar, dan bershalawat. Hati bertekad selalu menghidupkan sunah harian Rasulullah SAW. Dan, mudah menitikkan air mata ketika sedang dalam puncak kenikmatan taat. Wallahu a'lam.
Sumber : Republika Online, Rabu, 24 Oktober 2012
Label:
hikmah




