Tampilkan postingan dengan label Buku Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Juni 2013

Hijab Bunda Maria Bertuliskan Lafaz Laa Ilaahaillallah

Buku 99 Cahaya di Langit Eropa (Menapak Jejak Islam di Eropa), mampu membuat pembaca geleng-geleng kepala. Hal itu karena penulis menyajikan perjalanan spiritualnya keliling Eropa dengan unik. 
Buku ini juga mengajak pembaca secara tidak langsung berimajinasi menyelami kehidupan masyarakat Eropa saat memasuki masa kegelapan.
Sesuai dengan judulnya, buku ini membeberkan pengalaman spiritual Hanum Salsabiela Rais bersama suaminya Rangga Almahendra selama hidup tiga tahun di Wina, Austria. Selain suaminya, Hanum mendedahkan dua tokoh perempuan Eropa yang menjadi sumber inspirasinya dalam buku ini.
Keduanya adalah Fatma Pasha, perempuan Turki yang menjadi teman kursusnya di Austria. Serta mualaf Marion Latimer yang bekerja sebagai ilmuwan di Arab World Institute Paris. 
Dua orang itu disebut penulis memiliki pengetahun luar biasa luas tentang Islam. Hingga diakui jika dirinya terinspirasi dari keduanya yang mampu membuka borgol cara pandangnya bagaimana memahami Islam secara benar.
Menurut penulis, menjadi pemeluk Islam yang menjadi minoritas di Eropa, mampu membuka cakrawala dan khazanahnya dalam menilai Benua Biru tersebut. Hingga pada akhirnya Hanum mengakui keindahan utama Eropa bukan terletak pada keelokan Menara Eiffel, Colloseum Roma, Tembok Berlin, Stadion sepak bola San Siro alias Giuseppe Meazza, maupun Konser Mozart.
Melainkan tempat ziarah Islam, yakni kota di Eropa yang menyimpan jejak peradaban Islam yang mengandung sejuta misteri. Perjalanan penulis menjelajah Eropa adalah titik awal sebuah pencarian 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan oleh Islam di benua itu.
Hanum bersama Fatma pernah berjanji mengunjungi jejak-jejak Islam dari barat hingga ke timur Eropa. Dari Andalusia Spanyol hingga ke Istanbul Turki. Yang pada akhirnya perjalanan ritus penulis lalui sendiri tanpa kawannya itu dengan dimulai dari Paris, pusat ibu kota peradaban Eropa. 
Di Paris, Hanum berkenalan dengan Marion Latimer yang menunjukkannya bahwa Eropa adalah kawasan pantulan cahaya kebesaran Islam. Eropa menyimpan harta karun sejarah Islam yang luar biasa berharganya. Marion mampu membuat penulis jatuh cinta pada taraf spiritual lebih dengan Islam. 
Itu setelah dia berkunjung ke Museum Louvre, Pantheon, Gereja Notre Dame hingga Les Invalides. Belum lagi kunjungan ke Katedral Mezquita Cordoba, Istana Al Hambra Granada, hingga Hagia Sophia dan Masjid Biru Istanbul, membuatnya bersimpuh betapa bangganya dia terhadap Islam.
Yang membuat penulis terperangah adalah lukisan Bunda Maria dan bayi Yesus di Museum Louvre. Berkat bantuan Marion, penulis mendapat bukti hijab yang dipakai Bunda Maria bertahtakan kaligrafi Arab kuno bertuliskan, “Laa Ilaa ha Illallah”. Berbagai peninggalan maha karya peradaban Islam itu membuatnya semakin mantap dengan agama yang dianutnya.
Meski begitu, akhir dari perjalanan penulis di Eropa justru mengantarkanku pada titik awal dan akhir pencarian makna dan tujuan hidup. Yakni menunaikan ibadah haji ke Makkah yang dianggap mendekatkannya pada sumber kebenaran abadi yang Maha Sempurna. 
Melalui buku yang ditulis dalam 52 kisah ini, kita diajak secara tidak langsung menarik benang merah bahwa Eropa dan Islam pernah menjadi satu pasangan serasi. Kondisi yang bertolakbelakang dengan sekarang dengan munculnya gejala Islamophobia di masyarakat Eropa. 
Pasalnya Eropa sebelum masa Renaissance jauh terbelakang dan tertolong keberadaan Cordoba sebagai pusat Islam. Berdirinya kota berjuluk the true city of light tersebut mampu menjadi inspirasi Eropa untuk meraih kemajuan hingga seperti sekarang.
Dengan membaca buku ini, kita mendapat wawasan baru seputar dunia Islam di Eropa pada masanya. Jangan kaget pula jika tokoh besar Napoleon Bonaparte itu adalah mualaf. Kopi cappucino yang identik dengan Italia atau bunga tulip dari Belanda itu aslinya berasal dari Turki. 
Judul: 99 Cahaya di Langit Eropa 
Penulis: Hanum Salsabiela dan Rangga Almahendra 
Penerbit: Gramedia 
Edisi: Agustus 2011 
Tebal: 412 halaman 
Harga: Rp 69 ribu
Sumber : Republika online 

Senin, 28 Mei 2012

Nasihat di Khutbah Jumat

Allah SWT mewajibkan kaum Muslimin laki-laki untuk menunaikan shalat Jumat. Shalat ini dilaksanakan sepekan sekali pada Jumat, hari yang mulia.
Nasihat di Khutbah JumatPada setiap pelaksanaannya, ada dua khutbah yang disampaikan dan berfungsi sebagai peringatan dan pesan bagi kaum Muslimin.

Kewajiban pokok seorang khatib pada setiap khutbah Jumat adalah mengajak umat Islam untuk selalu berpegang kepada Alquran dan hadis. Merekalah yang berada di garis depan dalam menyampaikan pesan dan nasihat kepada umat.

Dalam Islam, khutbah Jumat memiliki kedudukan yang istimewa. Sebab, khutbah ini disampaikan secara rutin setiap pekan dan memiliki nilai kesucian tersendiri. Khutbah Jumat memiliki dasar-dasar dan prinsip yang berbeda dengan ceramah dan tabligh.

Jika prinsip tersebut tidak dipenuhi maka khutbah menjadi cacat. Khutbah ini berbeda dengan ceramah keagamaan lainnya karena setiap Muslim yang menunaikan shalat Jumat diwajibkan mendengarkannya. Telinga dan hati dibuka untuk mendengarkan pesan-pesan penting yang disampaikan khatib. Suasana yang tercipta pun hening.

Khutbah Jumat menjadi istimewa karena kaum Muslimin yang hadir di masjid adalah manusia yang secara sukarela memenuhi seruan Allah dan mengharapkan ridha-Nya.

Menghafal Alquran Itu Mudah

Allah menurunkan Alquran sebagai petunjuk dan tuntunan hidup manusia. Selama berabad- abad lamanya Alquran tetap terjaga keaslia nya dan tidak ada seorang pun yang mampu mengubahnya walaupun hanya satu ayat. 

Ini karena Allah yang memberikan jaminan bahwa Dia yang akan menjaga sendiri kemurnian kitab suci yang diturunkannya tersebut.

Rasulullah SAW dan para sahabat menghafal Alquran dengan begitu mudah. Mereka menyimpan ingatan ayat demi ayat, surah demi surah yang begitu banyak. Mereka adalah orang yang pertama kali menghafal, memahami, dan mengamalkan ajaran Alquran selama hidupnya.

Buku ini membahas tentang metode menghafal Alquran yang bernama Kauny Quantum Memory. Menurut penulis, salah satu teknik yang digunakan adalah baby reading. Teknik ini untuk memudahkan hafalan dan bacaan. 

Secara sederhana, teknik ini seperti kita mengajarkan kata demi kata kepada anak-anak. Kita tak perlu mengeja atau menjelaskan deretan huruf yang ada, tetapi langsung mencontohkan bunyi tersebut. Lalu membacanya berulang-ulang agar terekam dalam ingatan.

Senin, 21 Mei 2012

Belajar Menjadi Orangtua Sesuai Al-Qu,an


Tak sedikit generasi muda saat ini yang mengalami masalah-masalah dalam kehidupan. Mulai dari masalah tingkah laku, pergaulan, sampai masalah dari sisi keimanan. Penyebabnya bisa jadi karena Alquran dan tuntunan Rasulullah SAW tak lagi menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan.

Keprihatinan itu menjadi salah satu topik bahasan dalam forum silaturahim bulanan Ummahatul Mukminin Indonesia (UMI) bertema ‘’Quranic Parenting’’. Ustaz Budi Ashari dari Ar-Rahman Quranic Lear ning Center (AQL) yang menjadi salah satu pembicara dalam forum tersebut mengatakan, orangtua harus mau belajar menjadi orangtua sebelum ia benar-benar menjadi orangtua. Jika orangtua belum memahami fungsinya sebagai orangtua, akan sulit mendidik anak sesuai yang diamanatkan Alquran.

“Sangat sulit jika orang tua belajar menjadi orang tua sambil jalan. Seharusnya, ia memahaminya sebelum menikah dan berketurunan,’’ ujar Ustaz Budi. Bagaimana jika perbaikan dimulai dari si anak? Menurut dia, hal itu akan sangat sulit, seperti membalikkan aliran air dari laut ke gunung.

Alquran, lanjut dia, sudah mengajarkan semuanya, mulai dari cara membentuk keluarga hingga cara yang tepat bagi orang tua untuk mendidik anak-anaknya. Alquran juga mengajarkan bagaimana pola hubungan yang baik antara orangtua dan anak. 

‘’Jangan menjadikan Alquran hanya sebagai stiker yang jika bosan lalu dibuang. Tapi, galilah kan dungan yang ada di dalam nya. Quranic Parenting berusaha mengkaji ayat demi ayat dalam Alquran, yaitu ayat-ayat yang membahas pendidikan sebagai orang tua dan bagaimana pendidikan orang tua pada anaknya,’’ katanya.

Orangtua bijaksana
Sementara itu, Pimpinan Ar-Rahman Quranic Learning Ustaz Bachtiar Nasir membahas tentang cara menjadi orangtua bijaksana. Menurut dia, orang tua harus mengikuti perkembangan anak-anaknya. Jika tidak, akan tercipta jurang yang sangat dalam antara anak dan orangtua.

Jika ingin menjadi orang tua yang bijaksana, menurut Bachtiar, salah satunya harus pandai bersyukur kepada Allah. Orang tua harus memandang anak adalah hikmah dan menjadi orang tua adalah anugerah. ‘’Namun, tak setiap orang tua saat ini siap dan ber syukur pada Allah atas hik mah anak yang mereka dapat.’’

Panduan menjadi orangtua bijaksana ini terdapat dalam surah Luqman ayat 12-19. Ayat-ayat tersebut di antaranya menyebutkan apa saja ajaran-ajaran orang tua pada anaknya. Dikatakan bahwa syirik adalah bencana besar dalam keluarga. Karenanya, jauhkan anak-anak dari pendidikan dan lingkungan yang syirik. Jika diaplikasikan, Ustaz Bachtiar mengakui, memang tidak mu dah, tapi bisa dimulai dengan memilih lingkungan rumah yang baik. ‘’Jadi, jika ingin membeli rumah, lihat dulu tetangganya,’’ tutur dia.

Ia mengatakan pula, orangtua wajib mendidik anak-anaknya untuk berbuat baik pada orang tuanya agar si anak tidak dilaknat oleh Allah SWT. Untuk ini, ada dua fondasi yang harus dibangun pada anak. Pertama, selalu bersyukur kepada Allah. Kedua, selalu menghargai pengorbanan kedua orangtuanya. 


Sumber : Republika Online, Selasa, 15 Mei 2012, 08:20 WIB