Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 April 2014

Bilal Philips,Telah Meng-Islamkan 3.000 tentara Amerika


Abu Ameenah Bilal Philips bernama asli Dennis Bradley Philips. Dia berdarah Jamaika namun masa kecilnya dihabiskan di Kanada. Perjalanannya mengenal Islam menarik untuk disimak.

Sebelum menjadi muslim, Philips menganut musik dan cinta sebagai agamanya. Dibesarkan dalam kultur musik Jamaika kental membuat ia memilih menjadi gitaris. Dia kesengsem Jimi Hendrix dan Bob Marley. Saat berkuliah di Universitas Simon Frasier, Kota Vancouver, Kanada, dia kerap ngamen di klub dan kafe mempertontonkan kemahirannya bermain musik.



Bermain musik memberikan kesempatan pria kelahiran Jamaika, 6 Januari 1946, ini menjelajah ke berbagai negara, termasuk Malaysia dan Indonesia pada 1960-an. Di dua negara berpenduduk mayoritas Islam ini, Philips mulai tertarik mempelajari agama Nabi Muhammad. 

Balik ke negaranya pada 1972, lelaki berjanggut ini memutuskan mempelajari Islam secara intensif. Dia kerap berdiskusi dengan para cendekiawan muslim dan mempelajari buku-buku agama Islam. Tak perlu waktu cukup banyak, beberapa bulan kemudian Philips mengucapkan dua kalimat syahadat.

Setelah menjadi muslim, Philips memutuskan berhenti menjadi musikus dan mempelajari agama barunya lebih dalam. Dia mengaku tidak nyaman lagi bermusik. "Menjadi artis rentan terhadap perilaku dilarang Allah seperti obat-obatan, seks bebas, perempuan, dan pergaulan salah. Saya tidak mau seperti itu lagi," ujarnya. 

Dia kembali bersekolah dengan mendaftarkan diri ke jurusan studi Islam di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Alasannya, dia ingin belajar Islam dari sumber klasik di kota-kota bersejarah dan bukan budaya prakteknya. "Beda lingkungan akan berbeda menerjemahkan Islam," kata Philips. 
.
Kelar di Universitas Madinah, Philips terus belajar. Kali ini dia mendaftar program master di Universitas Riyadh. Selain berkuliah, dia juga nyambi menjadi pembawa acara Why Islam di Channel Two, stasiun televisi milik pemerintah Saudi. Acara seputar wawancara dengan para muallaf dari berbagai latar belakang dan ketertarikan mereka mempelajari Islam.
Dengan membawa acara itu, Philips mengaku imannya semakin kuat. Tak cuma menjadi presenter, dia juga menulis buku, antara lain Poligami dalam Islam dan Prinsip Dasar Iman dalam Islam

Kelar kuliah S2 pada 1990-an, Philips bekerja di departemen agama markas besar Angkatan Udara Arab Saudi di Ibu Kota Riyadh. Kala itu Perang Teluk tengah berkecamuk. Irak menginvansi ke Kuwait karena menolak menghapus utang luar negeri negeri Saddam Hussein itu. Posisi Kuwait kewalahan dan meminta bantuan ke Amerika Serikat. Negara adidaya itu mengirimkan pasukannya dan membuat pangkalan di Arab Saudi. 

Ketika tentara Amerika bermarkas di Negeri Petro Dollar itu, Philips kebagian memberikan materi tentang Islam kepada mereka. Ini penting untuk mengajarkan pengetahuan benar Islam bukanlah agama menyukai kekerasan. Hasilnya, sekitar tiga ribu serdadu Amerika masuk Islam. 

Selepas Perang Teluk, Philips dikirim ke Amerika untuk mendampingi para tentara muallaf itu. Dia mendapat bantuan dari anggota tentara beragama Islam untuk membuat konferensi dan kegiatan. Usahanya ini membuahkan hasil dan militer Amerika akhirnya membangun musala di seluruh pangkalan militer mereka. 

Kelar proyek itu, Philips hijrah ke Filipina dan mendirikan pusat informasi di Mindanao serta universitas berbasis Islam di Cotobato City. Pada 1994, Philips mendapat undangan bergabung dengan lembaga amal Dar Al Ber di Dubai, Uni Emirat Arab. Di sana ia membentuk pusat informasi Discover Islam di Kota Karama. Proyeknya kali ini mengundang ulama dari pelbagai negara. Dalam lima tahun, pusat informasi itu telah membuat 15 ribu orang dari seluruh penjuru dunia mengucapkan dua kalimat syahadat.
”

Asal mula Apple Computer


Tahun 1976, Steve Jobs, Steve Wozniak dan Ronald Wayne, mendirikan Apple. Sebelum mendirikan Apple, Wozniak adalah peretas barang elektronik. Jobs dan Wozniak telah berteman lama. Tahun 1978, Apple merekrut Mike Scott untuk menjabat sebagai CEO. Tahun 1983, Steve Jobs berhasil memancing John Sculley keluar dari Pepsi-Cola untuk menjabat sebagai CEO Apple dengan menanyakan, "Apakah kau mau menjual air gula sepanjang hidupmu, atau kau mau bekerja bersamaku dan mengubah dunia? Pada tahun berikutnya, Apple menyiarkan iklan televisi Super Bowl berjudul "1984". Pada pertemuan pemegang saham tahunan Apple tanggal 24 Januari 1984, Jobs yang emosional memperkenalkan Macintosh kepada hadirin yang sangat antusias; Andy Hertzfeld menggambarkan suasana tersebut sebagai "pandemonium." Macintosh menjadi komputer kecil pertama yang sukses secara komersial dengan antarmuka pengguna grafis

Sabtu, 24 Agustus 2013

Kisah Haru Terbunuhnya Putri Pimpinan Ikhwanul Muslimin Mesir



Salah seorang pimpinan Ikhwanul Muslimin Mesir, Mohamed El Beltaji tak menyangka putri satu-satunya akan secepat itu pergi meninggalkannya. Remaja putri yang manis dari lembah Sungai Nil, Asmaa Mohamed El Beltaji kini telah tiada. 

Dalam usianya yang masih 17 tahun, ia telah menjemput gelar sebagai syahidah dalam tragedi berdarah di Rabea Al Adawiyah (14/8) lalu.


El Beltaji mengisahkan, dulu ia terlalu sibuk dengan aktivitasnya sebagai pimpinan dan tokoh Ikhwanul Muslimin. Hingga putri satu-satunya itu sering mengeluhkan bahwa ia jarang sekali mendapat waktu untuk bersama ayahnya.


"Terakhir kami duduk bersama di Rabaa Al Adawiyah, dia berkata padaku, 'Bahkan ketika Ayah bersama kami, Ayah tetap sibuk.' Saat itu kukatakan, 'Tampaknya kehidupan ini tidak akan cukup untuk kita menikmati setiap kebersamaan, jadi aku berdoa kepada Tuhan agar kita menikmatinya kelak di surga'." Kisah El Beltaji dalam tulisannya yang di posting di sebuah blog.


Dua hari sebelum putrinya terbunuh, El Beltaji sempat bermimpi tentang putrinya. Dalam mimpi itu, ia melihat putrinya memakai gaun pengantin berwarna putih. "kau terlihat begitu cantik," ujarnya.


Dalam mimpi itu El Beltaji sempat berbincang-bincang dengan putrinya. Putrinya dengan manja berbaring duduk disampingnya. "Aku bertanya, 'Apakah ini malam pernikahanmu?' kau menjawab, 'Waktunya adalah di sore hari Ayah, bukan malam'." kisahnya.


Ternyata tafsir dari mimpi itu mengatakan padanya, sore itu putrinya tewas di Rabea Al Adawiyah. "aku mengerti apa yang kau maksud dan aku tahu Allah telah menerima jiwamu sebagai martir. Kau memperkuat keyakinanku bahwa kita berada di atas kebenaran dan musuh kita berada pada kebathilan." katanya.


El Beltaji begitu terpukul kehilangan putri satu-satunya itu. Bahkan, ia sama sekali tidak bisa menyaksikan putrinya untuk terakhir kalinya."Aku tidak melihatmu untuk terakhir kalinya, tidak mencium keningmu, dan memilki kehormatan untuk memimpin shalat jenazahmu."


Kehilangan putri satu-satunya tidak membuat El Beltaji putus asa. Bahkan, semangatnya untuk berjuang menyelesaikan revolusi Mesir saat ini makin membara di dadanya. Ia mengatakan, ia tak peduli lagi dengan nyawanya. ia tak takut dengan militer dan penjara. Putrinya telah berkorban nyawa untuk revolusi negara Nabi Musa itu, sekarang apakah ia akan lari dan meninggalkan perjuangannya?


"aku tidak mengucapkan selamat tinggal, tapi aku mengucapkan sampai jumpa. Kita akan segera bertemu dengan Nabi kita tercinta dan sahabat-sahabatnya di surga. Keinginan kita untuk menikmati kebersamaan kita akan menjadi kenyataan," tutup tulisan tersebut. cr-01/ Hannan Putra


Sumber  : Republika Online, Sabtu, 24 Agustus 2013