Tampilkan postingan dengan label Mualaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mualaf. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 April 2014

Putra Pembuat Film 'Fitna' Masuk Islam

Iskander Amien De Vrie (kiri) dan ayahnya, Arnoud van Doorn.
KAIRO —Iskander Amien De Vrie, putra mantan politikus Belanda anti-Islam, Arnoud van Doorn, akhirnya mengikuti jejak sang ayah menjadi seorang Muslim. Seperti orang tuanya, De Vrie menemukan hidayah setelah mempelajari Alquran.

“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad (SAW) adalah hamba dan utusan terakhir-Nya,” ujar Iskander ketika mengucapkan Syahadat, seperti dilaporkan Khaleej Times, Senin (21/2).
Iskander adalah salah satu di antara 37 orang yang masuk Islam selama berada di Dubai International Peace Convention.

“Saya melihat ayah saya menjadi lebih damai setelah masuk Islam. Saat itulah saya menyadari ada sesuatu yang baik dalam agama ini, dan itu akhirnya mengubah persepsi saya tentang Muslim,” kata putra Doorn itu lagi.

Sejak melihat perubahan sang ayah, Iskander mengaku mulai tergerak hatinya untuk mempelajari Alquran. Ia pun sengaja meluangkan waktunya untuk mendengarkan ceramah dari para ulama terkemuka.

Arnoud van Doorn dulunya adalah mantan anggota Partai Kebebasan (PVV), sebuah partai politik sayap kanan garis keras di Belanda. Ia merupakan salah satu dari para pemimpin PVV yang membantu memproduksi sebuah film provokatif berjudul ‘Fitna’ pada 2008 yang isinya menghubung-hubungkan Islam dan Alquran dengan kekerasan.

Akan tetapi, siapa yang menyangka jika hal tersebut justru menuntun van Doorn kepada cahaya kebenaran Islam.

Tahun lalu, ia memutuskan menjadi seorang Musilm setelah mempelajari Alquran secara mendalam dan membaca lebih banyak tentang Islam dan Nabi Muhammad SAW.

“Sampai sekarang, saya masih sangat menyesal karena telah mendistribusikan film (Fitna) itu. Saya merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki kesalahan yang telah saya lakukan di masa lalu,” kata Doorn seperti dilansir OnIslam.net.

“Untuk itu, saya ingin menggunakan segala bakat dan kemampuan yang saya miliki dalam cara yang positif dengan menyebarkan kebenaran tentang Islam.”

Sumber : Republika Online

Asal mula Apple Computer


Tahun 1976, Steve Jobs, Steve Wozniak dan Ronald Wayne, mendirikan Apple. Sebelum mendirikan Apple, Wozniak adalah peretas barang elektronik. Jobs dan Wozniak telah berteman lama. Tahun 1978, Apple merekrut Mike Scott untuk menjabat sebagai CEO. Tahun 1983, Steve Jobs berhasil memancing John Sculley keluar dari Pepsi-Cola untuk menjabat sebagai CEO Apple dengan menanyakan, "Apakah kau mau menjual air gula sepanjang hidupmu, atau kau mau bekerja bersamaku dan mengubah dunia? Pada tahun berikutnya, Apple menyiarkan iklan televisi Super Bowl berjudul "1984". Pada pertemuan pemegang saham tahunan Apple tanggal 24 Januari 1984, Jobs yang emosional memperkenalkan Macintosh kepada hadirin yang sangat antusias; Andy Hertzfeld menggambarkan suasana tersebut sebagai "pandemonium." Macintosh menjadi komputer kecil pertama yang sukses secara komersial dengan antarmuka pengguna grafis



Selasa, 02 Oktober 2012

Joe Ahmed Dobson: Kebenaran Alquran Terbukti

 Peristiwa serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat (AS), secara tidak langsung telah mengubah wajah Islam dan kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia.

Tak terkecuali di Inggris. Sejumlah pengurus masjid di London mengakui adanya kecenderungan yang semakin meningkat di kalangan masyarakat Inggris untuk mempelajari Islam, sejak peristiwa tersebut.

Dalam artikel berjudul "Wajah Baru Islam" yang dimuat dalam laman Islam for Today, penulisnya, Nick Compton, menyebutkan bahwa tren semacam itu bukan hal yang baru di Inggris.

Ia menyebutkan, sejumlah warga asli Inggris yang berdarah biru, kalangan bangsawan, bahkan memutuskan untuk menjadi seorang Muslim. Salah satunya yang disebutkan dalam artikel tersebut adalah Joe Ahmed Dobson, putra mantan Menteri Kesehatan Inggris Frank Dobson.

Meski lahir dan besar di lingkungan keluarga pemeluk Kristen yang taat, Joe remaja justru memilih untuk menjadi seorang agnostik. Ajaran Islam sendiri baru dikenal oleh laki-laki kelahiran tahun 1975 ini dari salah seorang temannya.

Saat itu usianya baru menginjak 16 tahun. “Seorang teman memberi saya terjemahan Alquran dalam bahasa Inggris,” ujar Dobson seperti dikutip telegraph.co.uk.

Dalam pandangan Joe Dobson, Islam merupakan agama yang identik dengan semua hal yang negatif. Namun, setelah mempelajari Alquran terjemahan pemberian temannya itu, sudut pandang Joe mengenai Islam secara perlahan mulai berubah.

Menurutnya, dengan membaca Alquran dirinya bagaikan mendapatkan wahyu. Isinya telah mengubah persepsi saya selama ini tentang Islam. Ternyata dalam Islam itu baik laki-laki maupun perempuan diwajibkan untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Alquran juga mengajarkan kita untuk memperlakukan setiap orang dengan hormat. Alquran sangat terbukti kebenarannya,” terangnya.

Selain itu, kata Joe, Alquran memberikan jawaban atas semua pertanyaan yang tidak bisa diberikan oleh kitab-kitab manapun.

Islam bisa menjawab pertanyaan 'mengapa'. Mengapa kita harus memperlakukan setiap orang sebagai saudara, dan setiap perempuan sebagai kakak.

Mengapa kita harus berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk diri sendiri dan sesama manusia.

“Itulah yang Alquran lakukan bagi saya. Dan itu memberi saya jawaban tentang mengapa saya harus hidup dengan cara ini (Islam—Red),” paparnya.

Muslim Indonesia
Sebuah perjalanan ke Indonesia di tahun 1992, memberikan kesan tersendiri dalam diri Joe Dobson. Ia menyaksikan secara langsung, bagaimana kehidupan umat Islam di Indonesia.

Pengalamannya berinteraksi langsung dengan umat Islam di Indonesia semakin membuatnya terkesan dengan agama Islam.

Kembali dari kunjungannya ke Indonesia, Joe Dobson mengakui, mulai tertarik untuk mempelajari Islam lebih mendalam. Beruntung ketika berkuliah di Universitas Manchester, ia memiliki banyak teman dari kalangan Muslim.

Karenanya, ia bisa banyak bertanya mengenai Islam. Begitu juga dengan buku-buku dan literatur-literatur mengenai Islam, banyak tersedia di perpustakaan kampusnya.

Baru kemudian pada awal 1998, dengan penuh keyakinan, ia memutuskan menjadi seorang Muslim. Bertempat di sebuah masjid di utara Kota London, Joe Dobson bersyahadat di hadapan jamaah masjid tersebut. Peristiwa tersebut terjadi pada Januari 1998.

Tantangan terbesar yang dihadapinya setelah memutuskan masuk Islam adalah keluarganya, terutama sang ayah. Keputusannya untuk menjadi seorang Muslim memang dilakukan di saat Frank Dobson sedang menjabat sebagai Menteri Kesehatan Inggris.

Untuk menghindari reaksi negatif dari publik Inggris terhadap sang ayah, akhirnya ia memutuskan untuk tidak memberitahukan perihal keislamannya tersebut.

“Saat itu, saya benar-benar tidak ingin mengatakan bahwa saya adalah seorang Muslim sampai saya merasa yakin bisa hidup dengan cara itu,” ujar pemegang gelar master bidang manajemen umum dan kebijakan sosial dari London Metropolitan University ini.

Namun lambat laun, keluarganya pun mengetahui perihal keislaman Joe Dobson. Mereka melihat beberapa perubahan besar terjadi dalam dirinya.

Dan itu membuat mereka bertanya-tanya. “Tetapi, setelah saya jelaskan, mereka pun akhirnya bisa menerima. Bahkan, ayah saya selalu membelikan buku-buku tentang Islam setiap Natal,” tuturnya.

Paling vokal

Di kalangan Muslim Inggris, Joe Ahmed Dobson terbilang cukup vokal dalam menyuarakan kepentingan Islam. Ketika pasukan AS dan negara-negara sekutunya melakukan invasi ke Afghanistan, ia mengeluarkan kritikan pedas.

Begitupun juga kritikannya mengenai kapitalisme negara-negara Barat. Menurutnya, kapitalisme Barat dan apa yang berlangsung di Afghanistan berasal dari prinsip-prinsip sosialis. “Itu bukan dari pandangan ekstrem Muslim, tapi merupakan prinsip sosialis yang dikembangkan Barat,” tegasnya.

Selain vokal, ia juga dikenal aktif di beberapa organisasi-organisasi Muslim yang berbasis di London. Antara lain, ia pernah menjabat sebagai Ketua Muslim Council of Britain's Regeneration Committee dan Direktur Interim London Muslim Care.

Di luar aktivitasnya sebagai pengurus organisasi Muslim, ia juga terlibat secara aktif dalam beberapa kampanye antinarkoba yang digagas oleh komunitas Muslim Inggris.

Tak hanya mengenai Islam yang disuarakan Joe Dobson. Ia juga kerap terlihat bersama para aktivis perdamaian untuk mengampanyekan mengenai perdamaian dunia. Dalam pandangannya, semua bangsa dan agama harus secara aktif bekerja sama untuk perdamaian.

“Pada dasarnya, mayoritas Muslim dan orang-orang dari semua agama memegang sebuah keyakinan yang berlandaskan kepada nilai-nilai kasih sayang, perdamaian, dan keadilan,” kata Joe.

Sumber : Republika Online, Senin, 01 Oktober 2012

Selasa, 25 September 2012

Manuelan Mirela: Aku Mencintai Rasulullah Tanpa Kehilangan Yesus

Manuela Mirela Tanescu lahir dan besar di Bukarest, Rumania. Keluarganya merupakan penganut Kristen Ortodoks. Namun, dari kecil ia tidak pernah ke gereja.

"Keluargaku tidak terlalu religius, tapi kita selalu percaya adanya Tuhan," akunya seperti dinukil onislam.net.

Jalan hidupnya berubah, ketika ia dinikahi Muslim Palestina. Melalui suaminya itu ia berkenalan dengan Islam. Hingga akhirnya setelah mengunjungi Yordania, Suriah, Iran, Pakistan, Malaysia dan Indonesia, Mirela memutuskan memeluk Islam di Teheran, Iran.

"Saya berterima kasih padanya," kenang Mirela.

Menurut Mirela, Islam adalah agama yang mudah dimengerti dan logis. Berbeda dengan ajaran Kristen yang membingungkan.

Mirela mencontohkan, umat Islam diwajibkan melaksanakan shalat lima waktu, sementara orang Kristen hanya beribadah pada hari Ahad saja. Singkatnya, kewajiban itu membuat umat Islam cenderung religius ketimbang umat Nasrani.
Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, Manuela Mirela mulai mendalami agama baru yang dipeluknya. Tak hanya terpesona dengan tata cara beribadah umat Islam, ia juga tertarik dengan tata cara kehidupan umat muslim di sejumlah negara Islam.

Hal lain yang menarik perhatian dirinya adalah selama kunjungannya ke sejumlah negara Islam, lingkungan yang ditinggali umat Islam lebih bersih ketimbang daerah yang dihuni non-muslim. Selain itu, Islam menghormati dan memuliakan semua Nabi dan Rasul.

"Jadi, aku mencintai Nabi Muhammad SAW tanpa kehilangan Yesus," kata dia.

Kekaguman Mirela lainnya adalah Islam sangat menghargai perempuan. Sebabnya, ia merasa heran dengan sikap Barat yang selalu saja menyatakan muslimah itu derajatnya lebih rendah daripada laki-laki. Padahal, perempuan Barat justru lebih direndahkan sebagai akibat dari materialistis peradaban barat.

Mereka menjadi komoditas dan objek seksual tanpa batas. Sementara Islam, tidak demikian.

"Aku melihat banyak orang yang membenci Islam karena mereka tidak tahu bagaimana Islam sebenarnya. Itu juga menjadi otokritik kita, yang kadang lupa dengan identitas sebagai muslim," papar dia.

Sumber : Republika Online, Minggu, 23 September 2012