Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Maret 2013

Ingin Anak Jago Bahasa Asing, Ini Triknya


Sekolah dwibahasa sudah jadi pilihan Anda? Jika, ya, dan Anda memang berharap anak sukses di sekolah dwibahasa, pastikan ia menguasai bahasa ibu dengan baik.
Sebab, kalau mengerti konsepnya dalam bahasa Indonesia, anak tak perlu susah payah membangun kerangka berpikir dengan bahasa asing. ''Anak tinggal mencari padanan katanya saja dalam bahasa asing,'' papar Yvonne Freeman dari The University of Texas, Brownsville, Amerika Serikat.
Bahasa pergaulan cenderung lebih mudah dikuasai. Dalam dua tahun, anak sudah bisa berkomunikasi dengan lancar. `'Tetapi, kemahiran (proficiency) itu tidak mencerminkan penguasaan terhadap bahasa akademik,'' ujar Yvonne yang bersama David Freeman mendapatkan kesimpulan tersebut dari pengalamannya selama 30 tahun meneliti sekolah dwibahasa.
Bahasa akademik membutuhkan waktu ekstra untuk dapat dipahami dengan baik. Tak ada gunanya memaksakan anak berbahasa Inggris setiap saat. Riset memperlihatkan diperlukan sekitar empat sampai sembilan tahun bagi anak untuk dapat memahami bahasa akademik. Yang ia perlukan hanyalah waktu. ''Jadi, jangan kirim anak Indonesia usia empat tahun ke sekolah berbahasa Inggris,'' celetuk Yvonne setengah bercanda.
Saat anak menguasai dua bahasa, ia akan memiliki keunggulan khusus. Anak dapat melihat suatu persoalan tidak cuma dari satu sudut pandang. Anak yang bilingual biasanya lebih fleksibel secara kognitif saat memecahkan masalah. ''Dia punya lebih banyak alternatif pemecahan masalah,'' tandas Yvonne.
Bagaimana orangtua bisa terlibat untuk membantu penguasaan bahasa asing sang buah hati? Begini caranya:
  • Untuk mengajarinya bahasa asing, mulailah kapan saja. Namun, pastikan Anda telah membangun kemahiran anak berbahasa ibu terlebih dulu. Jangan anggap Anda membuang waktu saat mengajarinya bahasa Indonesia.
  • Prinsipnya, bangun kompetensinya di bahasa ibu. Mengenalkan warna, misalnya. Tunjukkan dan sebutkan warna objek pada anak. Lantas dekatkan anak dengan materi pelajarannya. Misalnya dengan mengajaknya menunjuk benda-benda di sekitar yang warnanya serupa dengan warna yang tadi Anda kenalkan. Setelah ia paham betul, silakan perkenalkan kosa kata bahasa Inggrisnya.
  • Otak anak ibarat spons yang dapat menyerap banyak sekali pengetahuan. Tak ada batas berapa banyak jumlah bahasa asing yang boleh dipelajari anak. Ajari anak secara alami dengan membaca buku, menyanyi, dan mengenal budaya negara asal bahasa tersebut. Tak perlu khawatir jika suatu ketika Anda menemui anak mencampur dua bahasa sekaligus. Beritahukan padanan katanya dalam bahasa Inggris.

Sumber : Republika Online, Kamis, 2 Jumadil Awwal 1434 / 14 Maret 2013

Rabu, 20 Juni 2012

Urgensi Pendidikan Karakter


Oleh : Prof . Suyanto Ph.D

Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.

Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.

Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga pernah dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character... that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter... adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).

Memahami Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif.

Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu:

1.  Karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya
2.  Kemandirian dan tanggungjawab
3.  Kejujuran/amanah, diplomatis;
4.  Hormat dan santun.
5.  Dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama.
6.  Percaya diri dan pekerja keras.
7.  Kepemimpinan dan keadilan.
8.  Baik dan rendah hati.
9.  Karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan.

Dasar pendidikan karakter ini, sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age), karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Dari sini, sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak.

Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah, terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. Di sinilah peran guru, yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru, dipertaruhkan. Karena guru adalah ujung tombak di kelas, yang berhadapan langsung dengan peserta didik.

Dampak Pendidikan Karakter

Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education Partnership.

Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.

Sebuah buku yang berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi.

Hal itu sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.

Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah; Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis.

Seiring sosialisasi tentang relevansi pendidikan karakter ini, semoga dalam waktu dekat tiap sekolah bisa segera menerapkannya, agar nantinya lahir generasi bangsa yang selain cerdas juga berkarakter sesuai nilai-nilai luhur bangsa dan agama.*


Sumber : Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah


Jumat, 01 Juni 2012

5 Kesalahan Yang Harus Dihindari Guru Ketika Mengajar

Kegagalan guru dalam mengajar sering terjadi sebagai akibat kesalahan mendasar yang tidak disadari telah dilakukan oleh guru. Tentu saja ini adalah pendapat pribadi penulis berdasarkan pengalaman mengajar dan pengamatan terhadap rekan-rekan sejawat yang menyampaikan keluhan tentang kegagalan murid-muridnya. Kami berharap melalui tulisan ini para guru terinspirasi untuk tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang akan dijelaskan di bawah, sekaligus mampu melakukan koreksi diri secara reflektif sehingga pada gilirannya sanggup memberikan yang terbaik buat peserta didik yang diampunya. Ini menjadi autocritic buat kita semua.
Sebetulnya setiap guru memiliki potensi untuk berhasil menjalankan tugasnya sebagai agen pembelajaran yang handal. Keberhasilan guru ini secara nyata dapat dilihat dari keberhasilan murid-murid ketika mengikuti proses dan mencapai tujuan pembelajaran. Tanpa keberhasilan murid, maka apa pun yang dilakukan guru tidak ada nilainya.
Berikut adalah lima kesalahan guru ketika mengajar yang bisa mengakibatkan kegagalan siswa mencapai tujuan pembelajaran secara optimal.

Rabu, 16 Mei 2012

Guru Berkarakter dan KBM


Guru yang berkarakter adalah guru yang  antara lain guru harus memberikan reward kepada siswa yang menunjukkan karakter yang dihendaki dan pemberian punishment kepada mereka yang berprilaku dengan karakter yang tidak dikehendaki.

Guru yang berkarakter harus menghindari mengolok-olok siswa yang datang terlambat atau menjawab pertanyaan atau berpendapat kurang relevan. Selain itu, guru juga harus memberi umpan balik atau penilaian kepada siswa dari aspek-aspek positif. Guru harus menghilangkan budaya mengolok-olok siswanya saat melakukan kesalahan. Itu penting sebab disitulah pendidikan karakter itu mulai bermain.

Dalam kaitan kegiatan inti dalam KBM, peserta didik harus mencari informasi yang luas tentang topik yang dipelajari. Selain itu guru hendaknya melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran.

Sebelum memulai KBM guru mengucapkan salam dengan ramah kepada siswa ketika memasuki ruang kelas, mengecek kehadiran siswa. Selain itu, memastikan bahwa setiap siswa datang tepat waktu serta menghubungkan materi/kompetensi yang akan dipelajari dengan karakter yang merujuk pada silabus dan bahan ajar. Itu kegiatan standar yang mesti dilakukan seorang guru ketika memulai KBM.

Motivator Kegiatan Belajar Mengajar

Seorang motivator adalah orang yang menggerakkan siswa/siswa-siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar (yang telah dirancang) atas dasar keinginan siswa sendiri (tujuan  dan manfaat kegiatan tersebut benar-benar dirasakan atau diinternalisasi oleh siswa).  Dengan demikian siswa mendapat kepuasan dalam dirinya dengan melakukan kegiatan tersebut.

Bila dimisalkan dalam sebuah perusahaan, maka motivator adalah seorang PR (Public relation) dan marketer (sales).  Tugas seorang PR adalah meningkatkan citra (image) sebuah perusahaan sehingga masyarakat memberikan kepercayaan pada perusahaan tersebut, dan bahwa PRODUK YANG DIHASILKANNYA BERKUALITAS.  Dalam dunia pendidikan, seorang motivator mampu meningkatkan citra dari sekolah: guru, materi, KBM. Sehingga siswa dapat mempercayai sekolah.

Sebagai sales, motivator berusaha memunculkan kebutuhan masyarakat akan produk yang akan ditawarkan, mengenalkan produk (fungsi, kualitas, dsb) dengan berbagai upaya sehingga produk yang ditawarkan laku.  Agar KBM laku di anak maka seorang motivator harus mampu memunculkan kebutuhan anak akan KBM yang akan diselenggarakan dan menunjukkan manfaat serta keuntungan  memilikinya (mengikutinya), dsb.
Kedua usaha  PR dan sales, tidak lain adalah untuk menggerakkan siswa mau ”membeli” KBM yang ditawarkan.


Interaksi dan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)

Interaksi adalah suatu proses saling memberi aksi. Karena interaksi dalam KBM adalah juga interaksi sosial maka lebih jauh interaksi juga bermakna hubungan sosial yang dinamis antara orang perseorangan dengan orang perseorangan, antara perseorangan dan kelompok dan antara kelompok dan kelompok.
Interaksi dalam suatu KBM adalah suatu interaksi yang khas.  Dalam interaksi KBM kita memiliki tujuan untuk merubah orang lain, baik dalam pikiran, sikap maupun tindakannya.  Interaksi yang demikian biasa dikenal dengan istilah “interaksi edukatif”.   Jadi interaksi dalam KBM adalah suatu interaksi edukatif.
Dengan konsep interaksi sebagai interaksi edukatif maka muncullah istilah guru di satu pihak dan anak didik di pihak lain.  Keduanya berada dalam interaksi edukatif dengan fungsi, tugas, dan tanggung jawab yang berbeda, namun bersama-sama mencapai tujuan pendidikan.  Guru bertanggung jawab untuk “mengantarkan” anak didik ke arah tujuan pendidikan dengan  berbagai uapaya.  Sedangkan anak didik berusaha untuk mencapai tujuan itu dengan bantuan dan pembinaan dari guru.
Interaksi edukatif harus menggambarkan hubungan aktif dua arah dengan sejumlah pengetahuan sebagai mediumnya, sehingga interaksi tersebut merupakan hubungan yang bermakna dan kreatif.  Semua unsur interaksi edukatif harus berproses dalam ikatan tujuan pendidikan.  Karena itu interaksi edukatif adalah suatu gambaran hubungan aktif dua arah antara guru dan anak didik yang berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan. (Abu Achmadi dan shuyadi, 1985: 47).

Siapa yang berinteraksi

Dalam sebuah KBM yang berinteraksi adalah antara siswa-siswa dan guru (siswa-siswa, siswa-guru).  Untuk menggambarkan interaksi yang terjadi maka kita harus lebih memahami apa itu siswa dan apa itu guru.
Dalam suatu institusi ada satu tujuan yang harus dicapai.  Dan setiap komponen (baca: manusia) yang termasuk di dalamnya memiliki tugas untuk mencapainya (tujuan institusi menjadi tugas bagi setiap manusia yang diamanahi dalam institusi tersebut).  Dengan demikian baik guru maupun siswa memiliki tugas untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Tugas siswa adalah belajar.  Ini berarti siswa adalah diri yang aktif untuk melakukan suatu proses yang namanya belajar sehingga dapat menguasai berbagai pengetahuan, keterampilan sikap dan perilaku baru yang akan menjadi bekal dalam menjalani hidupnya, dengan kata lain siswa adalah subjek belajar.
Guru adalah suatu profesi (amanah) yang diemban oleh seseorang untuk mengubah pola pikir, pola sikap dan pola tindak orang lain (siswa) agar mencapai tujuan pendidikan.  James M Cooper (dalamSanjaya, 2008) menyatakan ”A teacher is a person charged with the responsibility of helping others to learn and to behave in new different ways.” (guru adalah seorang yang diberi tanggungjawab untuk  membantu orang lain untuk belajar dan berperilaku dengan cara baru yang berbeda.)  Dengan cara baru yang berbeda, maksudnya sesuatu yang baru yang dikuasi siswa sesuai dengan tujuannya belajar.
Dalam sebuah Interaksi KBM, guru memiliki peran yang sangat krusial.  Banyak guru tidak menyadari betapa peran yang dijalankannya harus memiliki dampak bagi pengkondisian siswa agar menjadi subjek belajar.
Siswa dapat menjadi subjek belajar apabila dalam interaksi yang terjalin selama KBM, guru berperan sebagai organisator, motivator dan fasilitator.  Saya akan jelaskan hal ini dalam tulisan yang berbeda. Dan saya mengajukan pengertian yang berbeda dari pengertian yang telah ada dari peran guru dalam KBM.
Jadi pada akhirnya, sebuah interaksi KBM yang benar-benar dapat menghantarkan siswa pada sebuah pencapaian tujuan yang ditetapkan, adalah sebuah interaksi sederajat, guru sebagai subjek, demikian juga siswa.  Masing-masing orang yang terlibat dalam interaksi KBM harus dihargai sebagai seorang manusia dengan berbagai kebutuhan dan kemampuannya.


Interaksi Setara Syarat KBM Efektif

Pengertian Setara

PBM merupakan suatu interaksi edukatif, yaitu interaksi yang memiliki tujuan untuk mengubah orang lain, dalam pikiran, sikap dan tindaknya.  Ketika melakukan sebuah interaksi edukatif (mengubah orang/siswa) harus dipahami bahwa pola pikir, pola sikap dan pola tindak siswa tidak akan berubah apabila siswanya sendiri sebagai subjek belajar tidak menginginkannya.  Siswa adalah manusia yang sama dengan guru, memiliki potensi yang sama, memiliki harga diri, memiliki perasaan, keinginan, harapan dan sebagainya.  Dengan demikian interaksi untuk mengubah ini harus dengan memperhatikan semua hal yang ada pada diri siswa.
Seorang guru yang menghormati siswa sebagaimana adanya akan melakukan siswa dengan hormat, sebagaimana ia menghormati dirinya.  Jika guru tahu bahwa dirinya tidak suka dilecehkan oleh orang lain, maka ia takkan melecehkan seorang siswa, walau yang dilakukannya sangat tidak sesuai dengan yang diharapkan guru.  Jika guru menginginkan untuk diperlakukan orang dengan sopan maka ia akan memperlakukan siswanya dengan sopan pula.  Seorang guru yang memahami siswa sebagai makhluq yang berharga, karena ditinggikan oleh Penciptanya maka ia akan sangat menempatkan siswa sebagai aset yang berharga.  Guru boleh mengharapkan adanya pengertian akan kelebihan dan kelemahannya oleh siswa, namun hal ini juga harus terjadi timbal balik bahwa ia pun harus dapat memahami siswa terlebih dahulu.  Guru di satu pihak punya harapan dan kebutuhan, siswa di pihak lain juga memiliki harapan dan kebutuhannya sendiri, saling menghormati hal-hal ini merupakan ciri dari suatu interaksi setara.  Jadi interaksi setara adalah interaksi yang dilandasi oleh adanya pemahaman bahwa baik guru maupun siswa adalah sama-sama manusia dengan segala potensi dan keunikan maisng-masing, yang harus berinteraksi untuk mencapai tujuan bersama yaitu ketaqwaan.

a. Pensikapan Guru terhadap anak

Guru menghargai siswa sebagai manusia yang sederajat dengan dirinya. Guru yang lebih tua, lebih dewasa, lebih lama belajar, tidak menjadikannya lebih baik atau lebih mulia dikarenakan hal tersebut.  Di sisi Allah yang lebih mulia adalah yang paling bertaqwa.  Guru dengan demikian menghargai  setiap siswa dengan apa yang ada pada diri siswa dan segala bentuk usaha yang dilakukan siswa untuk melaksanakan tugas, fungsi dan perannya dalam PBM.  Adanya potensi yang sama antara guru dan siswa menjadikan setiap orang memiliki peluang untuk dapat memahami (mencapai tujuan sesuai porsinya) sesuai dengan proses tumbuh kembangnya potensi.  Walau siswa lebih muda bukan berarti tidak akan mampu memahami melebihi gurunya.  Dengan demikian PBM yang terjadi bukan ke arah memplot siswa untuk menerima suatu pemahaman dengan logika dan penuangan yang sama dengan guru, misal apabila ada hasil kesimpulan siswa yang tidak sama dengan guru, tidak serta merta guru menyalahkan siswa.  Yang harus digali guru adalah bagaimana siswa menumbuhkembangkan potensinya sehingga mendapatkan kesimpulan tersebut.  Guru harus menghargai setiap proses belajar siswa serta hasilnya.

b. Komunikasi

Komunikasi bukanlah tentang kita memberi orang lain informasi atau tentang orang lain menjejalkan pikiran-pikiran mereka ke dalam pikiran kita.  Komunikasi adalah tentang hubungan, pemahaman dan harapan.  Komunikasi bagaikan reaksi kimia dua unsur yang membentuk gabungan yang tidak terpisahkan dan saling tergantung.
Dalam suatu interaksi, dibutuhkan adanya dua pihak yang menjadi pelaku komunikasi.  Masing-masing pihak memiliki hak yang sama untuk menyampaikan pendapat, perasaan dan sikap, dan juga punya kewajiban untuk mendengarkan, menyimak, memahami, dan berempati terhadap lawan komunikasinya.
Seorang guru harus menjadi komunikator yang baik.  Seorang komunikator yang baik adalah seorang yang selalu introspeksi pada dirinya, dan tidak menyalahkan orang lain.  Jika siswa tidak memahami apa yang kita sampaikan, tentu kita dulu yang harus dipertanyakan sebagai guru, apakah bahasa yang dipakai sudah sesuai dengan tingkat dan kosa kata siswa. Apakah alur penuturan sudah disesuaikan dengan alur berpikir siswa, alih-alih kita memaksakan alur berpkir kita yang belum tentu bisa diikuti siswa.   Atau bahan yang disampaikan terlalu tinggi, atau terjadi lompatan yang terlalu tajam.
Dengan demikian seorang guru harus menguasai keterampilan komunikasi yang efektif untuk menjadi seorang komunikator yang baik.

Kamis, 26 April 2012

Mendikbud: UN 2012 "Paspor" Masuk PTN

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, mengatakan, ada beberapa perbedaan dalam pelaksanaan Ujian Nasional tahun 2012 dibandingkan tahun sebelumnya, yakni dari sisi kebijakan, UN akan diberlakukan sebagai "paspor" untuk masuk perguruan tinggi.

"Mulai tahun 2013, sebanyak 60 persen mahasiswa baru diseleksi melalui nilai rapor dan UN, saat ini baru mencapai 25 persen saja, " kata Mohammad Nuh dalam jumpa pers menjelang pelaksanaan Ujian Nasional tingkat SMA/SMK dan MA pada 16-24 April mendatang, di Jakarta, Kamis.

Sedangkan mengenai substansi UN 2012, yakni Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) selaku lembaga penyelenggara UN menyiapkan lima jenis soal berbeda dengan tingkat kesulitan yang sama.

"Jika dulu soal nomor satu di tipe A bisa jadi soal nomor 10 di tipe B, sekarang tidak lagi. Soalnya benar-benar berbeda dengan tingkat kesulitan yang sama, sehingga diharapkan bisa meminimalisasi terjadinya upaya kecurangan," ujarnya.

Terkait masalah teknis dalam pelaksanaan UN 2012, terletak pada jumlah percetakan untuk mencetak soal-soal UN. "Percetakan soal UN tidak lagi di tiap provinsi melainkan ada di empat titik dengan kualifikasi security printing. Empat titik lokasi pencetakan soal UN, yakni di Jakarta, Surabaya, semarang dan Riau.

"Dengan semakin rampingnya jumlah perusahaan dan lokasi pencetak soal UN, maka akan memudahkan bagi kami untuk mengawasi bila sampai terjadi kebocoran soal. Kami akan segera mengetahui, misalya kebocoran di propinsi A, maka bisa segera ditelurusi dari wilayah distribusi yang mana," katanya.

Pelaksanaan Ujian Nasional, ujar Mendikbud harus tetap harus dilaksanakan sebagai sebuah proses evaluasi siswa, sebab UN dilakukan bukan tanpa dasar, yakni bertujuan memotret kompetensi sang anak secara komprehensif. "UN adalah bagian dari evaluasi kompetensi siswa. Namun, UN hanya merupakan evaluasi kognitif, bukan afektif dan psikomotorik," katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, nantinya bukan hanya peserta didik yang dievaluasi, namun guru dan kepala sekolah juga patut mendapat perlakuan yang sama sebagai bagian dari satuan pendidikan. "Hasil UN yang nanti dikirimkan ke sekolah masing-masing bisa di-break down untuk mengevaluasi kinerja dan kualitas guru atas materi yang diajarkannya," katanya.

Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) M Aman Wiranatakusumah mengatakan penyelenggaraan UN sudah sesuai skenario dengan perbaikan dan peningkatan berdasarkan evaluasi pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya. "Mudah-mudahan berjalan baik apa yang telah menjadi niat dan ikrar bersama, yaitu UN kali ini harus dilakukan secara jujur dan kredibel," ujarnya.

Dalam pencetakan soal pihaknya hanya mencetak sesuai jumlah peserta UN 2012. Kalaupun ada soal yang lebih, hanya dicetak dalam jumlah tertentu untuk mengantisipasi soal yang rusak.

"Saat ini naskah tidak dicetak berlebih untuk mengantisipasi kecurangan. Selain penghematan anggaran, hal ini juga berhubungan dengan keamanan," kata Aman menambahkan.
Sementara untuk distribusi soal dibutuhkan perlakuan berbeda dalam pendistribusian ke daerah rawan bencana maupun konflik sosial, seperti Aceh dan Papua. 

"Kasus penembakan di Papua membuat proses pendistribusian soal UN membutuhkan kapal terbang khusus. Semoga distribusi soal berjalan lancar dan tepat waktu," ujar mantan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut.

Ujian nasional 2012 untuk tingkat menengah atas diikuti 2.580.446 siswa SMA/SMK/MA pada 16-19 April mendatang. Para siswa tersebut berasal dari 27.237 sekolah. Dengan rincian peserta terdiri atas 1.234.921 pelajar SMA, 1.041.924 siswa SMK, dan 303.601 siswa MA. Dari jumlah tersebut Jawa Timur merupakan provinsi penyumbang peserta UN terbanyak untuk tingkat SMA.

Sementara untuk tingkat SMK, partisipasi tertinggi datang dari provinsi Jawa Barat. Papua Barat berada di urutan terbawah dalam partisipasi sekolah menengah untuk mengikuti UN baik SMA maupun SMK.

Dalam pelaksanaan UN SMA dibutuhkan 148.352 ruang kelas sebagai tempat ujian dengan melibatkan 296.704 pengawas UN baik dari kalangan guru maupun dosen dari perguruan tinggi.

Sumber : Republika Online, Jumat, 13 April 2012, 14:26 WIB