
Guru yang berkarakter adalah guru yang antara
lain guru harus memberikan reward kepada siswa yang menunjukkan karakter
yang dihendaki dan pemberian punishment kepada mereka yang berprilaku
dengan karakter yang tidak dikehendaki.
Guru yang berkarakter harus menghindari mengolok-olok
siswa yang datang terlambat atau menjawab pertanyaan atau berpendapat
kurang relevan. Selain itu, guru juga harus memberi umpan balik atau
penilaian kepada siswa dari aspek-aspek positif. Guru harus
menghilangkan budaya mengolok-olok siswanya saat melakukan kesalahan.
Itu penting sebab disitulah pendidikan karakter itu mulai bermain.
Dalam kaitan kegiatan
inti dalam KBM, peserta didik harus mencari
informasi yang luas tentang topik yang dipelajari. Selain itu guru
hendaknya melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran.
Sebelum memulai KBM guru mengucapkan salam dengan ramah kepada siswa
ketika memasuki ruang kelas, mengecek kehadiran siswa. Selain itu,
memastikan bahwa setiap siswa datang tepat waktu serta menghubungkan
materi/kompetensi yang akan dipelajari dengan karakter yang merujuk pada
silabus dan bahan ajar. Itu kegiatan standar yang mesti dilakukan seorang guru ketika memulai KBM.
Motivator Kegiatan Belajar Mengajar
Seorang motivator adalah orang yang menggerakkan
siswa/siswa-siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar (yang telah
dirancang) atas dasar keinginan siswa sendiri (tujuan dan manfaat
kegiatan tersebut benar-benar dirasakan atau diinternalisasi oleh
siswa). Dengan demikian siswa mendapat kepuasan dalam dirinya dengan
melakukan kegiatan
tersebut.

Bila dimisalkan dalam sebuah perusahaan, maka motivator adalah
seorang PR (Public relation) dan marketer (sales). Tugas seorang PR
adalah meningkatkan citra (image) sebuah perusahaan sehingga masyarakat
memberikan kepercayaan pada perusahaan tersebut, dan bahwa PRODUK YANG
DIHASILKANNYA BERKUALITAS. Dalam dunia pendidikan, seorang motivator
mampu meningkatkan citra dari sekolah: guru, materi, KBM. Sehingga siswa
dapat mempercayai sekolah.
Sebagai sales, motivator berusaha memunculkan kebutuhan masyarakat
akan produk yang akan ditawarkan, mengenalkan produk (fungsi, kualitas,
dsb) dengan berbagai upaya sehingga produk yang ditawarkan laku. Agar
KBM laku di anak maka seorang motivator harus mampu memunculkan
kebutuhan anak akan KBM yang akan diselenggarakan dan menunjukkan
manfaat serta keuntungan memilikinya (mengikutinya), dsb.
Kedua usaha PR dan sales, tidak lain adalah untuk menggerakkan siswa mau ”membeli” KBM yang ditawarkan.
Interaksi dan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
Interaksi adalah suatu proses saling memberi aksi. Karena
interaksi dalam KBM adalah juga interaksi sosial maka lebih jauh
interaksi juga bermakna hubungan sosial yang dinamis antara orang
perseorangan dengan orang perseorangan, antara perseorangan dan kelompok
dan antara kelompok dan kelompok.
Interaksi dalam suatu KBM adalah suatu interaksi yang khas. Dalam interaksi KBM kita memiliki tujuan untuk merubah
orang
lain, baik dalam pikiran, sikap maupun tindakannya. Interaksi yang
demikian biasa dikenal dengan istilah “interaksi edukatif”. Jadi
interaksi dalam KBM adalah suatu interaksi edukatif.
Dengan konsep interaksi sebagai interaksi edukatif maka muncullah
istilah guru di satu pihak dan anak didik di pihak lain. Keduanya
berada dalam interaksi edukatif dengan fungsi, tugas, dan tanggung jawab
yang berbeda, namun bersama-sama mencapai tujuan pendidikan. Guru
bertanggung jawab untuk “mengantarkan” anak didik ke arah tujuan
pendidikan dengan berbagai uapaya. Sedangkan anak didik berusaha untuk
mencapai tujuan itu dengan bantuan dan pembinaan dari guru.
Interaksi edukatif harus menggambarkan hubungan aktif dua arah dengan
sejumlah pengetahuan sebagai mediumnya, sehingga interaksi tersebut
merupakan hubungan yang bermakna dan kreatif. Semua unsur interaksi
edukatif harus berproses dalam ikatan tujuan pendidikan. Karena itu
interaksi edukatif adalah suatu gambaran hubungan aktif dua arah antara
guru dan anak didik yang berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan.
(Abu Achmadi dan shuyadi, 1985: 47).
Siapa yang berinteraksi
Dalam sebuah KBM yang berinteraksi adalah antara siswa-siswa dan guru
(siswa-siswa, siswa-guru). Untuk menggambarkan interaksi yang terjadi
maka kita harus lebih memahami apa itu siswa dan apa itu guru.
Dalam suatu institusi ada satu tujuan yang harus dicapai. Dan setiap
komponen (baca: manusia) yang termasuk di dalamnya memiliki tugas untuk
mencapainya (tujuan institusi menjadi tugas bagi setiap manusia yang
diamanahi dalam institusi tersebut). Dengan demikian baik guru maupun
siswa memiliki tugas untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah
ditetapkan.
Tugas siswa adalah belajar. Ini berarti siswa adalah diri yang aktif
untuk melakukan suatu proses yang namanya belajar sehingga dapat
menguasai berbagai pengetahuan, keterampilan sikap dan perilaku baru
yang akan menjadi bekal dalam menjalani hidupnya, dengan kata lain siswa
adalah subjek belajar.
Guru adalah suatu profesi (amanah) yang diemban oleh seseorang untuk
mengubah pola pikir, pola sikap dan pola tindak orang lain (siswa) agar
mencapai tujuan pendidikan. James M Cooper (dalamSanjaya, 2008)
menyatakan ”
A teacher is a person charged with the responsibility of helping others to learn and to behave in new different ways.”
(guru adalah seorang yang diberi tanggungjawab untuk membantu orang
lain untuk belajar dan berperilaku dengan cara baru yang berbeda.)
Dengan cara baru yang berbeda, maksudnya sesuatu yang baru yang dikuasi
siswa sesuai dengan tujuannya belajar.
Dalam sebuah Interaksi KBM, guru memiliki peran yang sangat krusial.
Banyak guru tidak menyadari betapa peran yang dijalankannya harus
memiliki dampak bagi pengkondisian siswa agar menjadi subjek belajar.
Siswa dapat menjadi subjek belajar apabila dalam interaksi yang
terjalin selama KBM, guru berperan sebagai organisator, motivator dan
fasilitator. Saya akan jelaskan hal ini dalam tulisan yang berbeda. Dan
saya mengajukan pengertian yang berbeda dari pengertian yang telah ada
dari peran guru dalam KBM.
Jadi pada akhirnya, sebuah interaksi KBM yang benar-benar dapat
menghantarkan siswa pada sebuah pencapaian tujuan yang ditetapkan,
adalah sebuah interaksi sederajat, guru sebagai subjek, demikian juga
siswa. Masing-masing orang yang terlibat dalam interaksi KBM harus
dihargai sebagai seorang manusia dengan berbagai kebutuhan dan
kemampuannya.
Interaksi Setara Syarat KBM Efektif
Pengertian Setara
PBM merupakan suatu interaksi edukatif, yaitu interaksi yang memiliki
tujuan untuk mengubah orang lain, dalam pikiran, sikap dan tindaknya.
Ketika melakukan sebuah interaksi edukatif (mengubah orang/siswa) harus
dipahami bahwa pola pikir, pola sikap dan pola tindak siswa tidak akan
berubah apabila siswanya sendiri sebagai subjek belajar tidak
menginginkannya. Siswa adalah manusia yang sama dengan guru, memiliki
potensi yang sama, memiliki harga diri, memiliki perasaan,
keinginan, harapan dan sebagainya. Dengan demikian interaksi untuk
mengubah ini harus dengan memperhatikan semua hal yang ada pada diri
siswa.
Seorang guru yang menghormati siswa sebagaimana adanya akan melakukan
siswa dengan hormat, sebagaimana ia menghormati dirinya. Jika guru
tahu bahwa dirinya tidak suka dilecehkan oleh orang lain, maka ia takkan
melecehkan seorang siswa, walau yang dilakukannya sangat tidak sesuai
dengan yang diharapkan guru. Jika guru menginginkan untuk diperlakukan
orang dengan sopan maka ia akan memperlakukan siswanya dengan sopan
pula. Seorang guru yang memahami siswa sebagai makhluq yang berharga,
karena ditinggikan oleh Penciptanya maka ia akan sangat menempatkan
siswa sebagai aset yang berharga. Guru boleh mengharapkan adanya
pengertian akan kelebihan dan kelemahannya oleh siswa, namun hal ini
juga harus terjadi timbal balik bahwa ia pun harus dapat memahami siswa
terlebih dahulu. Guru di satu pihak punya harapan dan kebutuhan, siswa
di pihak lain juga memiliki harapan dan kebutuhannya sendiri, saling
menghormati hal-hal ini merupakan ciri dari suatu interaksi setara.
Jadi interaksi setara adalah interaksi yang dilandasi oleh adanya
pemahaman bahwa baik guru maupun siswa adalah sama-sama manusia dengan
segala potensi dan keunikan maisng-masing, yang harus berinteraksi untuk
mencapai tujuan bersama yaitu ketaqwaan.
a. Pensikapan Guru terhadap anak
Guru menghargai siswa sebagai manusia yang sederajat dengan dirinya.
Guru yang lebih tua, lebih dewasa, lebih lama belajar, tidak
menjadikannya lebih baik atau lebih mulia dikarenakan hal tersebut. Di
sisi Allah
yang lebih mulia adalah yang paling bertaqwa. Guru
dengan demikian menghargai setiap siswa dengan apa yang ada pada diri
siswa dan segala bentuk usaha yang dilakukan siswa untuk melaksanakan
tugas, fungsi dan perannya dalam PBM. Adanya potensi yang sama antara
guru dan siswa menjadikan setiap orang memiliki peluang untuk dapat
memahami (mencapai tujuan sesuai porsinya) sesuai dengan proses tumbuh
kembangnya potensi. Walau siswa lebih muda bukan berarti tidak akan
mampu memahami melebihi gurunya. Dengan demikian PBM yang terjadi bukan
ke arah memplot siswa untuk menerima suatu pemahaman dengan logika dan
penuangan yang sama dengan guru, misal apabila ada hasil kesimpulan
siswa yang tidak sama dengan guru, tidak serta merta guru menyalahkan
siswa. Yang harus digali guru adalah bagaimana siswa menumbuhkembangkan
potensinya sehingga mendapatkan kesimpulan tersebut. Guru harus
menghargai setiap proses belajar siswa serta hasilnya.
b. Komunikasi
Komunikasi bukanlah tentang kita memberi orang lain informasi atau
tentang orang lain menjejalkan pikiran-pikiran mereka ke dalam pikiran
kita. Komunikasi adalah tentang hubungan, pemahaman dan harapan.
Komunikasi bagaikan reaksi kimia dua unsur yang membentuk gabungan yang
tidak terpisahkan dan saling tergantung.
Dalam suatu interaksi, dibutuhkan adanya dua pihak yang menjadi
pelaku komunikasi. Masing-masing pihak memiliki hak yang sama untuk
menyampaikan pendapat, perasaan dan sikap, dan juga punya kewajiban
untuk mendengarkan, menyimak, memahami, dan berempati terhadap lawan
komunikasinya.
Seorang guru harus menjadi komunikator yang baik. Seorang
komunikator yang baik adalah seorang yang selalu introspeksi pada
dirinya, dan tidak menyalahkan orang lain. Jika siswa tidak memahami
apa yang kita sampaikan, tentu kita dulu yang harus dipertanyakan
sebagai guru, apakah bahasa yang dipakai sudah sesuai dengan tingkat dan
kosa kata siswa. Apakah alur penuturan sudah disesuaikan dengan alur
berpikir siswa, alih-alih kita memaksakan alur berpkir kita yang belum
tentu bisa diikuti siswa. Atau bahan yang disampaikan terlalu tinggi,
atau terjadi lompatan yang terlalu tajam.
Dengan demikian seorang guru harus menguasai keterampilan komunikasi yang efektif untuk menjadi seorang komunikator yang baik.