Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Maret 2014

Ismail Raji al-Faruqi, Penggagas Islamisasi Ilmu


Setiap upaya pengembangan keilmuan harus diarahkan sebagai refleksi dari keimanan dan realisasi ibadah kepada-Nya.

Islamisasi ilmu adalah gagasan yang  telah lama disuarakan oleh para pemikir Muslim. Salah satunya, Ismail Raji al-Faruqi. Ia menggagas perlunya Islamisasi ilmu pengetahuan modern ke dalam sebuah bingkai tauhid.

Al-Faruqi adalah cendekiawan Muslim yang cukup berpengaruh di abad ke-21. Ia lahir di Jaffa, Palestina, pada 1 Januari 1921. Tak hanya gigih menyemai pemikiran Islam, ia pun tak henti mengkritik ekspansi Zionis Israel di tanah kelahirannya. Namun, sikap kerasnya terhadap Israel inilah yang membawanya kepada maut.

Bersama sang istri, Lamiya al-Faruqi, ia wafat pada 27 Mei 1986 setelah ditikam orang tak dikenal yang masuk ke kediamannya di Wyncote, Pennsylvania, Amerika Serikat (AS). Hingga kini, penyebab kematiannya masih diselimuti awan gelap. Namun, banyak pihak meyakini aksi pembunuhan itu berkaitan erat dengan kecamannya terhadap Israel.

Al-Faruqi lahir dari ayah yang berprofesi sebagai hakim (kadi). Sang ayah, Abd al-Huda al-Faruqi, adalah sosok yang sangat istikamah dalam menjalankan nilai-nilai Islam. Laman Ismailfaruqi.com menjelaskan, al-Faruqi memperoleh pendidikan agama pertama kali di rumah dari sang ayah. Dasar-dasar pendidikan agama juga diperkaya melalui masjid di dekat tempat tinggalnya.

Al-Faruqi melewati jenjang pendidikan sekolah formal secara mulus. Pada 1936, ia melanjutkan pendidikan di sekolah Katolik Prancis, College des Freres (St Joseph) di Palestina. Tamat dari St Josep, ia bekerja di bagian pencatat pada sebuah lembaga bernama Masyarakat Kerja
Sama (Registrar of Cooperative Societies) pada 1942.

Setelah itu, kariernya terus melesat hingga ia duduk sebagai Gubernur Distrik Galilee pada 1948. Jabatan ini dilakoninya atas mandat Pemerintah Inggris yang ada di Yerussalem.

Ketika Israel mengikrarkan diri sebagai negara Yahudi pada 1948, al-Faruqi memilih untuk meninggalkan Palestina. Tempat yang ia tuju adalah Beirut, Lebanon. Di sini, ia melanjutkan studinya di American University of Beirut.

Tak lama setelah itu, ia memutuskan merantau ke Amerika Serikat. Di sana, ia  menuntut ilmu pada program pascasarjana di Indiana University School of Arts and Sciences. Gelar magister (MA) bidang filsafat direngkuhnya pada 1949.

Tak lama kemudian, ia kuliah filsafat di Universitas Harvard. Gelar MA yang kedua pada bidang filsafat disandangnya pada 1951 setelah mempertahankan tesis berjudul Justifying the Good: Metaphysics and Epistemology of Value.

Dari Harvard, al-Faruqi kemudian kembali ke Indiana University. Di universitas inilah ia meraih gelar doktor (PhD) di bidang filsafat pada September 1952. Dari rekam jejak studinya ini dapat dipahami bila al-Faruqi memiliki pemahaman yang sangat mendalam mengenai filsafat klasik dan perkembangan pemikiran tradisional di Barat.

Setelah bertahun-tahun menimba ilmu di AS, al-Faruqi kemudian mendalami ilmu-ilmu agama Islam di Universitas Al-Azhar, Kairo, selama empat tahun. Tamat dari Al-Azhar, al-Faruqi kembali ke AS. Saat itulah, ia mulai terlihat sebagai cendekiawan Muslim yang cemerlang.
Tiga sumbu tauhid
Kala itu, Al-Faruqi sangat prihatin terhadap kondisi umat Islam yang tenggelam dalam sistem pendidikan Barat. Karena itu, ia berpikir, tak ada cara lain untuk membangkitkan Islam kecuali dengan mengkaji kembali kultur keilmuan Islam masa lalu, masa kini, dan keilmuan Barat, untuk kemudian mengolahnya menjadi keilmuan yang rahmatan lil alamin, melalui apa yang ia sebut Islamisasi ilmu.

Untuk melakukan Islamisasi ilmu itu, menurut al-Faruqi, diperlukan tiga sumbu tauhid (kesatuan).  Pertama, adalah kesatuan pengetahuan. Berdasarkan sumbu yang pertama ini, tak ada lagi pernyataan bahwa  beberapa ilmu bersifat aqli (rasional) dan ilmu lainnya bersifat naqli (tidak rasional).

Kedua, yakni kesatuan hidup. Di sini berarti, semua disiplin ilmu harus menyadari dan mengabdi kepada tujuan penciptaan. Dengan demikian, tidak ada lagi pernyataan bahwa beberapa disiplin sarat nilai sedangkan disiplin-disiplin yang lainnya bebas nilai atau netral.

Ketiga, kesatuan sejarah. Ini artinya segala disiplin ilmu akan menerima sifat yang umatis dan kemasyarakatan dari seluruh aktivitas manusia, dan mengabdi kepada tujuan-tujuan umat  di dalam sejarah.

Dengan demikian, tak  ada lagi pembagian ilmu ke dalam ilmu-ilmu yang bersifat individual dan ilmu-ilmu yang bersifat sosial. Dengan demikian, semua disiplin bersifat humanistis dan umatis.

Dalam kaitannya dengan Islamisasi ilmu, al-Faruqi berpendapat, setiap penelitian dan usaha pengembangan keilmuan harus diarahkan sebagai refleksi dari keimanan dan realisasi ibadah kepada-Nya. 
Ini berbeda dengan prinsip keilmuan Barat, yang memisahkan ilmu pengetahuan dari prinsip teologi dan agama.

Gagasan-gagasan cemerlang untuk memperjuangkan proyek integrasi ilmu tersebut, ia tuangkan dalam banyak tulisan, baik dalam bentuk artikel di majalah maupun jurnal, juga dalam bentuk buku. Lebih dari 20 buku, dalam berbagai bahasa, telah ditulisnya, dan tak kurang dari 100 artikel telah dipublikasikan.

Selain dalam bentuk tulisan, gagasan Islamisasi ilmu itu juga  ia perjuangkan lewat lembaga kajian Islam yang didirikannya.

Pada 1980, misalnya, ia mendirikan The International Institute of Islamic Thought (IIIT) di AS yang kemudian menerbitkan bukunya yang berjudul Islamization of Knowledge: General Principles and Workplan pada 1982.

Sebelumnya, pada 1972, ia mendirikan The Association of Muslim Social Scientist pada 1972. Lembaga-lembaga internasional yang didirikannya itu menerbitkan jurnal tentang ilmu-ilmu sosial Islam.

Berbagai kegiatan ini ia lakukan semata didorong oleh pandangannya bahwa saat ini ilmu pengetahuan benar-benar telah bersifat  sekuler dan karenanya jauh dari tauhid.

Maka itu, al-Faruqi berinisiatif memberikan 'terapi' agar  kemajuan dan pengetahuan tidak berjalan kebablasan di luar jalur yang seharusnya. Terapi itu tak lain konsep Islamisasi ilmu dan paradigma tauhid dalam pendidikan dan pengetahuan.

Aktif berkarya
Sebagai seorang cendekiawan, Ismail Raji al-Faruqi termasuk sosok yang aktif berkarya. Tercatat lebih dari 20 buku dan ratusan artikel telah ia hasilkan.

Diantara bukunya yang terpenting adalah Tauhid: It's Implications for Thought and Life. Buku yang terbit pada 1982 ini mengupas tentang tauhid secara lengkap.  Dalam buku ini, tauhid tidak hanya dipandang sebagai ungkapan lisan, tetapi bagaimana tauhid dikaitkan dengan seluruh aspek kehidupan manusia, baik dari segi politik, sosial, maupun budaya.

Karya lainnya yang banyak dikaji adalah Islamization of Knowledge: General Principle and Workplan (1982). Dari buku ini terlahir gagasan pentingnya Islamisasi ilmu pengetahuan. Di dalamnya, terangkum langkah-langkah yang harus ditempuh dalam proses Islamisasi tersebut.

Ia juga cukup banyak melahirkan karya yang berhubungan dengan ilmu perbandingan agama. Salah satunya adalah Christian Ethic dan Trilogue of Abraham Faiths. Dua buku ini membahas konsep tiga agama tentang negara dan bangsa, dan konsep tiga agama itu tentang keadilan dan perdamaian. Tiga agama yang dimaksud adalah Islam, Kristen, dan Yahudi.

Ada lagi salah satu bukunya yang menarik perhatian para akademisi, yakni Historical Atlas of the Region of the World serta Cultural Atlas Islam. Buku yang disebut terakhir itu ditulis al-Faruqi bersama istrinya dan diterbitkan tak lama setelah keduanya wafat.

Sumber : Republika Online

Rabu, 08 Agustus 2012

10 Perintis Google Sebelum Meraksasa


Sebagian besar pengguna internet pasti mengenal Google. Setidak-tidaknya salah satu layanan mereka yakni mesin pencari, hampir pasti pernah digunakan. Siapa yang menyangka memang, berawal dari garasi kecil, perusahaan ini bisa mendunia.

Seperti diketahui, Google didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin pada tahun 1998, yang ketika itu masih tercatat sebagai mahasiswa di Stanford University.

Selain kedua orang tersebut, tentu saja Google tidak bisa sukses tanpa kehadiran karyawannya yang berhasil merintis menjadi seperti sekarang. Tidak sebanyak sekarang, awal kehadiran Google dibangun dari segelintir karyawan saja.

Ingin tahu siapa 10 karyawan pertama yang direkrut oleh duo Sergey Brin dan Larry Page sebelum Google meraksasa seperti sekarang?

 

Craig Silverstein

Silverstein adalah orang pertama yang direkrut oleh Sergey dan Larry sebagai karyawan pada tahun 1998. Saat diterima di Google, posisi yang ditempatinya adalah HR Manager.

Dia bekerja di Google hingga tahun 2004. Saat ini, Silverstein bekerja di pengembang Khan Academy.

 Heather Cairns

Satu angkatan dengan Silverstein, Heather Cairns merupakan karyawan wanita pertama di Google. Walaupun bukan menjabat di posisi teknis, dia bekerja di Google mulai dari tahun 1998 sampai dengan 2004.

Saat ini dia telah pensiun dari dunia bisnis, dan hanya aktif sebagai penyandang dana untuk beberapa start-up sembari menikmati kekayaannya.

Ray Sidney

Adalah karyawan yang direkrut oleh Google pada tahun 1999. Posisinya saat itu adalah sebagai software engineer. Namun sayang, umur kerjanya di Google tidaklah lama, hanya sekitar 4 tahun.
Sidney mengundurkan diri 13 bulan sebelum Google melakukan IPO. Saat ini dia bekerja sebagai developer real estate di Big George Ventures.


Harry Cheung

Salah satu insinyur pertama yang dimiliki oleh Google. Diterima di perusahaan tersebut pada tahun 1999, tidak diketahui kapan tepatnya Harry Cheung mengundurkan diri.

Saat ini dia menjadi penyandang dana di beberapa perusahaan seperti Qwiki, Badgeville dan PrePay.

Urs Holzle

Bekerja dari tahun 1999 hingga saat ini, membuat Urs Holzle menjadi sebagai karyawan senior yang masih bertahan di Google. Saat ini dia menjabat sebagai Senior Vice President for Technical Infrastructure.




Georges Harik

Bergabung sebagai karyawan ke-8 di Google yang menempati sebagai salah satu software engineer. Karirnya selesai pada tahun 2005, dengan posisi terakhir sebagai Director of Googlettes.


 

 

Salar Kamangar

Pria kelahiran Teheran, Iran, ini menjadi karyawan ke-9 saat bergabung dengan Google pada tahun 1999. Dia bergabung setelah tidak lama menyelesaikan studinya di Stanford University.
Saat ini, Kamangar masih bekerja di Google sebagai CEO of Youtube ketika menggantikan sang pendirinya Chad Hurley pada tahun 2010.


Omid Kordestani

Bergabung pada Mei 1999, Omid Kordestani merupakan sosok dibalik konsep bisnis Google sehingga menggurita seperti sekarang. Pria keturunan Iran ini masih bekerja dengan posisi terakhir sebagai Senior Advisor to Office of the CEO Google.


 

Steve Schimmel

Tidak banyak bisa diungkap dari Steve Schimmel, selain sebagai karyawan ke-9 yang direkrut oleh Google pada tahun 1999. Pasalnya, dia mengundurkan diri pada tahun 2004, dengan jabatan terakhir sebagai Business Development.




Chris Skarkis

Sama seperti Steve Schimmel, tidak ada yang terlalu menonjol dari seorang Chris Skarkis. Kecuali dia pernah menjabat sebagai Director of Bussines Development dan pernah bekerja di Google dari tahun 1999 hingga 2005.





Sumber : Detik.Com

Senin, 30 Juli 2012

Rahasia Sukses Bill Gates


Tentu ada sifat dan karakter Bill Gates yang membuatnya bisa sukses luar biasa. Dalam beberapa kesempatan, ia pun kerap berbicara tentang rahasia kesuksesannya.

Berikut beberapa rahasia sukses Bill Gates,


Banyak Belajar

Bill Gates mengaku banyak membaca dari kecil. Ia menilai, kebiasaan membaca adalah faktor sukses seperti yang beberapa kali dikatakannya.

"Saya menempatkan gairah untuk belajar secara berkelanjutan di posisi tinggi. Ketika saya masih cukup muda, saya membiasakan diri untuk membaca banyak buku.

Membaca tentang banyak subyek adalah hal yang bagus. Tentu saja saat ini, jauh lebih mudah untuk online dan menemukan informasi tentang topik yang menarik bagi Anda.

Punya rasa keingintahuan semacam itu tentang dunia membantu siapapun untuk sukses, tidak masalah pekerjaan apa yang mereka pilih,"

Visi jangka panjang


Bill Gates terkenal punya visi jangka panjang. Ia memprediksi bisnis yang akan meledak di masa depan. Alhasil, dia selalu satu atau dua langkah di depan kompetitornya. Seperti visinya bahwa komputer akan dibutuhkan oleh banyak orang.

"Kita selalu menaksir terlalu tinggi perubahan yang akan muncul dalam dua tahun ke depan dan menaksir terlalu rendah perubahan yang akan muncul dalam sepuluh tahun ke depan. Jangan biarkan diri Anda tertidur dan tidak beraksi,"

"Ketika itu, Anda mendengar orang-orang pintar mengatakan mengapa seseorang perlu komputer? Saat ini, sulit dibayangkan bagaimana hidup ini tanpa komputer. Itulah sebuah visi, tidak terimajinasikan kebanyakan orang sekitar 30 tahun lampau, namun beberapa orang punya visi yang tidak hanya diimajinasikan, namun diwujudkan,"

Bertindak segera


Bill Gates suka beraksi dengan segera tanpa menunda-nunda. Ia punya banyak ide dan mewujudkannya segera. Kebiasaan itu adalah salah satu rahasia kesuksesannya.

"Saya melakukan aksi yang besar dan segera. Hal ini ibaratnya seperti karet ban bertemu dengan jalan aspal. Jika Anda berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat dan punya visi ke mana teknologi akan menuju namun tidak mengambil aksi, Anda tidak akan pernah bisa sukses,"

Menerima kritikan

 

Untuk mencapai sukses, seseorang harus mampu mendengar dan belajar dari kritikan yang datang. Bill Gates mengaku senang mendengarkan kritikan dari para konsumen Microsoft.

"Konsumen Anda yang paling tidak bahagia adalah sumber terbesar bagi Anda untuk belajar,"

"Konsumen kami yang berasal dari Jepang, secara umum sangat keras soal kualitas dan ketepatan, itu adalah sesuatu yang fantastis,"

Mempelajari teknologi


Kepada anak muda, Bill Gates menyarankan untuk belajar banyak tentang teknologi. Sebab, keterampilan menggunakan teknologi bisa mengantarkan seseorang pada kesuksesan.

"Pengetahuan yang solid tentang software produktivitas dan tool IT yang lain menjadi pondasi dasar untuk sukses dalam berbagai macam karir. Selain itu, juga latar belakang bagus di matematika dan sains.

Jika Anda melihat hal-hal paling menarik yang muncul dalam dekade terakhir, apakah itu hal keren seperti pemutar musik portabel dan video game atau sesuatu yang lebih praktis seperti smartphone dan teknologi medis, semuanya itu datang dari bidang sains dan teknologi.

Saat ini dan di masa depan, beberapa pekerjaan dengan pengaruh paling besar akan berhubungan dengan software, apakah itu mengembangkan software untuk perusahaan seperti Microsoft atau membantu organisasi lain sukses dengan menggunakan tool teknologi informasi,"


Sunber : Detik.com



Kamis, 24 Mei 2012

Nasiruddin Al-Tusi, Ilmuwan Serba Bisa dari Persia


 Ilmuwan serba bisa. Julukan itu rasanya amat pantas disandang Nasiruddin Al-Tusi. Sumbangannya bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern sungguh tak ternilai besarnya. 

Selama hidupnya, ilmuwan Muslim dari Persia itu mendedikasikan diri untuk mengembangkan beragam ilmu seperti, astronomi, biologi, kimia, matematika, filsafat, kedokteran, hingga ilmu agama Islam.

Sarjana Muslim yang kemasyhurannya setara dengan teolog dan filsuf besar sejarah gereja, Thomas Aquinas, itu memiliki nama lengkap Abu Ja'far Muhammad ibn Muhammad ibn Al-Hasan Nasiruddin Al-Tusi. 

Ia lahir pada 18 Februari 1201 M di Kota Tus yang terletak di dekat Meshed, sebelah timur laut Iran. Sebagai seorang ilmuwan yang amat kondang di zamannya, Nasiruddin memiliki banyak nama. Antara lain Muhaqqiq Al-Tusi, Khuwaja Tusi, dan Khuwaja Nasir.

Nasiruddin lahir di awal abad ke-13 M, ketika dunia Islam tengah mengalami masa-masa sulit. Pada era itu, kekuatan militer Mongol yang begitu kuat menginvasi wilayah kekuasaan Islam yang amat luas. Kota-kota Islam dihancurkan dan penduduknya dibantai habis tentara Mongol dengan sangat kejam.

Selasa, 22 Mei 2012

Hujjatul Islam A. Hassan : Mengobarkan Semangat Keislaman di Era Kolonial


Selama beberapa dekade, wacana tentang agama dan hukum mewarnai kehidupan berbangsa di negeri ini.
Salah satu dari isu yang paling sering muncul untuk diperdebatkan adalah penerapan hukum Islam atau syariah. Sebagian kelompok ingin mempertahankan interpretasi Islam secara formal, termasuk di dalam penerapan syariah.

Sedangkan, kelompok lain menghendaki adanya kesesuaian antara Islam dan nilai-nilai universal, seperti hak asasi manusia (HAM), demokrasi, hak perempuan, dan pluralisme agama.

Perdebatan ini sudah mewarnai Indonesia sejak awal abad ke-20, bahkan saat Indonesia masih di bawah cengkeraman kolonialisme Belanda.

Pada zaman penjajahan Belanda, kelompok Islam melakukan gerakan bawah tanah sebagai reaksi atas kondisi sosial dan politik saat itu. Di antara tokoh-tokoh Islam yang memiliki semangat dan ide-ide dalam memperjuangkan tuntutan kelompok Islam tersebut adalah Ahmad Hassan (A Hassan).

Michael Feener dalam bukunya, Muslim Legal Thought in Modern Indonesia, menyebut A Hassan sebagai penggerak atas munculnya organisasi yang bersifat sukarela, terbukanya kesempatan pendidikan, juga mendorong terbitnya media cetak. Ia pula yang mendorong lahirnya sekolah pemikir dan berkembangnya komunitas baru.

Ilmuwan Jepang, Takashi Shiraishi, menyebut masa ini sebagai age in emotion, yaitu suatu masa ketika bangsa Indonesia rajin membaca dan mendiskusikan ide-ide yang terinspirasi dari gerakan reformasi Islam dari Timur Tengah untuk pembaruan semangat keislaman dan melawan pengaruh kolonial Barat.

Kiprah A Hassan, seorang keturunan Tamil yang lahir di Singapura, dimulai saat ia bergabung di organisasi keislaman Persis (Persatuan Islam). Ia bergabung satu tahun setelah organisasi ini didirikan pada 1923 oleh sekelompok pedagang di Bandung.

Kehadiran A Hassan ini menjadikan Persis sebagai organisasi Islam yang berani menyuarakan aspirasinya pada masa itu. A Hassan sendiri dikenal sebagai tokoh yang cukup keras mengkritik praktik ibadah tradisional yang diklaim sebagai bid’ah dan khurafat.
Laman www.hawaii.edu menyebut, A Hassan juga berseberangan dengan ide nasionalisme karena ia berpendapat, Muslim tak bisa dipisahkan dari negara. Ia berargumen, Muslim seharusnya menyatu di bawah satu daulah (negara).
Di bawah kepemimpinan A Hassan, Persis lebih berkonsentrasi pada bidang pendidikan untuk menyebarkan ide-idenya. A Hassan lalu mendirikan institusi pendidikan Islam, yaitu Pesantren Persis di Bangil, Jawa Timur.