Saya pekerja swasta di Jakarta, yang tinggal di Depok. Saya hampir setiap hari pulang sekitar jam 16.00 sore. Karena macet saya sering sampai di rumah setelah azan Isya dan belum shalat Maghrib. Saya tidak bisa menunda pulang setelah Maghrib karena sampainya di rumah akan terlalu malam.
Jawaban :
Shalat Fardlu adalah ibadah yang sangat istimewa. Shalat Fardlu merupakan ibadah yang memiliki batas waktu tertentu dalam pelaksanaannya dan harus ditunaikan sesuai waktu yang ditentukan dalam keadaan apa pun selama kita masih dalam keadaan sadar (tidak gila, epilepsi, dan lain-lain). Dan untuk wanita, tidak haidh/nifas.
Pertanyaan Anda sudah pernah dibahas dalam bahtsul masail di PCNU Jakarta Selatan, tahun 2010 lalu. Bahwa menjamak shalat karena macet sementara jarak tempuh hanya 30 kilometer tidak mencapai masafatul qashri (jarak yang membolehkan untuk meng-qashar shalat) diperbolehkan dalam keadaan tertentu atau dalam kondisi sangat sulit atau masyaqqah.
Dalam Kitab Bughyatul Mustarsyidin halaman 77 disebutkan, “Kami berpendapat boleh menjamak shalat bagi orang yang menempuh perjalanan singkat yang telah dipilih oleh Syekh Albandaniji. Sebuah hadis dengan jelas memperbolehkan melakukan shalat jamak bagi orang yang bukan musafir sebagaimana yang tercantum dalam Syarah Muslim. Alkhatthabi menceritakan dari Abu Ishak tentang bolehnya menjamak shalat dalam perjalanan singkat karena suatu keperluan/hajat meskipun tidak dalam kondisi keamanan terancam, hujan lebat, dan sakit. Ibnul Munzir juga memegang pendapat ini.”
Namun, untuk lebih hati-hati, ada baiknya mengatur waktu agar shalat fardlu terlaksana dengan sempurna. Jika dalam perjalanan memungkinkan berhenti sejenak untuk melaksanakan shalat, maka lakukanlah untuk mendapat kesempurnaan shalat.
Sebenarnya, ketika dalam perjalanan, shalat bisa dilakukan di dalam kendaraan (mobil atau angkutan umum) dalam keadaan duduk, di mana sujud dan rukuk cukup dengan menundukkan kepala; posisi sujud lebih rendah dari pada rukuk.
Jika memang benar-benar tidak memungkinkan maka, silakan menjamak shalat Maghrib dengan Isya sesuai ketentuan-ketentuan menjamak shalat. Wallahu’alam.
Orang yang Paling Menderita Dunia dan Akhirat
Oleh : Guntara Nugraha Adiana Poetra Lc, M.A *
| Orang ikhlas adalah orang yang paling berbahagia hidupnya, adapun orang yang riya (beramal soleh agar dilihat oleh orang lain) adalah orang yang paling menderita. Orang yang ikhlas cukup Allah sajalah yang tau amalannya tanpa sibuk untuk mendengar puja dan puji orang lain, adapun orang riya sibuk dengan komentar orang lain karena tanpa komentar, orang-orang riya ini sepertinya tak bisa hidup, sedih dan menderita Orang yang sibuk dengan komentar Allah dengan dirinya adalah orang yang ikhlas, adapun orang yang sibuk dengan komentar orang lain adalah orang yang riya. Penderitaan orang yang riya tidak hanya di dunia, akan tetapi di akherat mereka juga akan menjadi golongan yang pertama kali di sidang dan di adzab oleh Allah ta’ala sesuai dengan hadist Rasulullah, mereka itu dari golongan mujahid, ilmuan dan penderma • Seorang mujahid yang ingin di panggil seorang syahid dan pemberani... • Seorang yang ahli Qur’an yang ingin di panggil pribadi yang soleh, berilmu ataupun qori... • Seorang penderma yang ingin dipanggil orang yang begitu dermawan... | Begitu agungnya niat dalam ajaran Islam, sampai-sampai baik dan buruknya amal perbuatan di nilai dari tulus dan tidaknya niat seseorang, suatu perbuatan yang di niatkan semata-mata karena Allah ta’ala jelas akan berbuah pahala sebagai penambah timbangan kebaikan kelak di akherat. Begitu tidak mudahnya menjaga niat, sampai-sampai ini bisa menjadi penyebab di giringnya seseorang ke dalam api neraka, sedikit saja kita salah dalam menempatkan niat, maka akan berakibat fatal, kalaupun tidak di dunia, di akherat itu adalah kepastian balasannya. Sifat riya akan terbantahkan di pengadilan Allah ta’ala, karena niat mereka yang melenceng dari jalurnya ketika hidup di dunia. Syeikh Al Islam Ibnu taimiyyah yang dirahmati Allah ta’ala mengatakan tentang bahaya riya sebagai sebuah syahwat khofiyah (nafsu yang ringan). Oleh karenanya orang yang riya selalu ingin memuaskan syahwatnya dengan pujian dan komentar manusia. Sama halnya saat seseorang lapar tentu punya syahwat untuk makan, lelaki punya syahwat kepada wanita yang cantik jelita dan begitulah keadaan jiwa orang yang ria selalu mempunyai syahwat dengan komentar-komentar orang lain tentang dirinya yang sebenarnya akan membuat mereka menderita di dunia dan di akherat. *. Dosen Fakultas Dakwah Unisba Sumber : Republika Online |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar